Duda Rasa Perjaka
Oleh : Tika Ihwatika
![]() |
| source : pixabay |
Prok…
prok... prok…
Suara
tepuk tangan teman-teman terdengar riuh memecah kesunyian ruang sidang yang
saat itu digunakan untuk acara penutupan dan pengumuman hasil sidang. Setelah
hampir 2 tahun lamanya akhinya aku dan rekan-rekanku bisa menyelesaikan sidang
tesis hari ini. Alhamdulillah aku lulus dengan IPK 3,75 serta yudisium
cumlaude.
Usai
acara penutupan, satu persatu kami keluar ruangan secara tertib. Setiap orang
mendapatkan selembar kertas sebagai keterangan tanda lulus sidang, tak
terkecuali dengan aku. Di kertas itu tercantum namaku yang setelah dinyatakan
lulus sidang tesis, aku berhak mendapatkan gelar baru sebagai Magister
Pendidikan.
Waktu
menunjukkan pukul 15.00. Kumandang adzan asar terdengar samar dari kejauhan.
Bersama beberapa orang teman, aku bergegas menuju mushola kampus hendak
melaksanakan sholat ashar.
Rasa
syukur kupanjatkan pada sang Kholik atas pencapaianku mendapatkan gelar baru
sebagai M,Pd. Tak terasa bulir airmata menggenang di kedua kelopak mataku. Ada
rasa bahagia, haru dan berbagai rasa yang sulit kuungkapkan.
Ada
rasa sakit yang mendalam ketika aku ingat motivasi awalku melanjutkan kuliah
pasca sarjana ini. Ya, pada awalnya aku hanya ingin mencari kesibukan setelah
kecewa dengan kegagalan pernikahanku yang hanya terjadi dalam hitungan jam
saja.
Hitungan
jam???
Ya,
hitungan jam. Karena sesaat setelah acara resepsi pernikahan, istriku pergi
meninggalkanku dan lari dengan lelaki lain.
Saat
itu aku limbung, bingung apa yang harus kuperbuat. Kedua mertuaku
bersujud memohon maaf atas kelakuan anaknya. Mereka hanya bisa menangis
dan menyesali perbuatan anak gadisnya.
Aku
tak segera pulang ke rumah orang tuaku. Aku masih berharap istriku kembali
menemuiku dan mencari solusi atas masalah yang dihadapi. Namun setelah seminggu
tak kunjung kudapatkan kabar tentang keberadaan istriku, akhirnya akupun
memutuskan untuk pulang dan berterus terang pada kedua orang tuaku.
Terbayang
dalam ingatanku bagaimana kecewa dan sakitnya perasaan kedua orang tua
mendengar ceritaku. Ibu memeluk dan menangisiku sambil berbisik agar aku sabar
menghadapi semua ini. Begitupun dengan ayah, beliau hanya mampu memberikan
kata-kata bijaknya agar aku bisa menerima peristiwa ini secara dewasa.
Tak
dapat kupungkiri jika aku benar-benar merasa terpukul dengan tragedi cintaku
ini. Entahlah..apa yang harus kulakukan saat itu, hingga akhirnya muncul
keinginanku untuk kembali melanjutkan pendidikan di pasca sarjana.
Dan
sampailah pada hari ini, aku berhasil menambah gelar akademik untuk menambah
statusku sebelumnya yang Duda Rasa Perjaka.
….
Sidang
tesis telah selesai, selanjutnya aku bersiap untuk mengikuti seremonial acara
wisuda yang akan dilaksanakan pada pertengahan bulan depan. Namun sebelum acara
wisuda, pihak kampus menyelenggarakan seminar terlebih dahulu yang wajib
diikuti oleh para calon wisudawan. Tempat penyelenggaraannya di sebuah hotel
nun jauh di kota Tasikmalaya. Aku jadi berpikir untuk ikut menumpang mobil
temanku saja, karena kalau memakai motor takut kehujanan.
Tiba
saatnya seminar, sesuai rencana aku berangkat dengan ikut numpang mobil teman.
Sebetulnya bisa dikatakan sahabat dekat, mengingat akhir-akhir ini aku dan dia
sering berkomunikasi dan berinteraksi secara intens. Selama bimbingan tesis pun
kami sering bareng, kebetulan aku dan dia dibimbing oleh dosen yang sama. Arah
tempat tinggal akupun searah dengan tempat tinggalnya.
Pagi-pagi
sekali aku menunggunya di pinggir jalan raya. Tak berapa lama, dia muncul dan
menghentikan mobilnya di seberang jalan. Kulihat dia menurunkan kaca mobil dan
menyuruhku segera naik. Akupun bergegas membuka pintu mobil dan duduk di
sampingnya. Dia kembali menstater mobilnya dan melaju menuju kota Tasikmalaya.
Selama
di perjalanan, hpnya nyaris tak henti berbunyi. Sambil menyetir, dia sisipkan
hpnya di antara kerudung dan telinganya melayani obrolan seseorang. Kudengar
dia berbicara dengan kaki tangannya di pabrik pengolahan pupuk organik. Ya..
selain jadi guru dia juga seorang pengusaha wanita yang sukses. Bla bla bla..
nada bicaranya begitu tegas dan berwibawa. Sesekali dia terbahak sambil
bercanda. Kulihat jari lentiknya begitu terampil menyetir mobil.
Tak
terasa kami telah sampai di tempat seminar yaitu sebuah hotel di kota
Tasikmalaya. Setelah memarkirkan mobil, kami bergegas menuju ballroom hotel
tempat diselenggarakannya seminar. Kedatangan kami agak terlambat sehingga
mendapatkan tempat duduk di posisi paling belakang karena penuh. Acarapun
berjalan lancar, hingga tibalah waktunya untuk coffee break.
Aku
dan dia kembali bersama mengambil makanan kecil yang telah disediakan panitia.
Kami memilih duduk di sebuah gazebo menghadap kolam renang. Sambil menikmati
hidangan kami ngobrol. Namun tanpa sadar, dari arah belakang muncul beberapa
orang teman. Rupanya sedari tadi mereka memperhatikan kebersamaan kami. Mereka
mengolok kami dan mengatakan kami pasangan serasi.
Aku
menanggapi olokan teman-teman dengan senyum. Namun jujur saja dalam hati aku
mengaminkan dugaan mereka. Kedekatan aku dengan Bu Nia yang kini menjadi
sahabat spesialku telah membuat hatiku sedikit meluruh. Ada perasaan beda saat
lama tak jumpa dia. Mungkin bisa disebut benih-benih cinta, namun aku masih
bertahan untuk tidak segera mengungkapkan rasa yang ada ini. Aku takut dia
menolakku.
Waktu
menjelang acara wisuda sudah dekat. Para mahasiswa disilahkan datang ke kampus
sehari sebelum hari H untuk acara gladi bersih sekalian ambil baju kebesaran
toga. Aku tak menyia-nyiakan waktu. Seperti biasa segera kuhubungi dia berbasa
basi mengajak berangkat bareng sekalian aku ikut menumpang mobilnya. Gayung
bersambut, dengan nada gembira kudengar dia mengiyakan ajakanku.
"Sudah
kuduga, kamu pasti bakal ikut aku lagi," sambutnya di ujung telpon sambil
tertawa renyah.
"Iya
lah aku kan sudah jadi body guardnya bos jebug," jawabku tak mau kalah.
Dia
kembali terbahak mendengar aku menyebutnya dengan bos jebug.
"Ya
udah, tunggu aku di tempat biasa ya, Insyaallah aku berangkat pukul 11 an.
Sekarang aku mau ke pabrik dulu ngontrol anak-anak," Ucapnya menutup
percakapan. Anak-anak yang dia maksud adalah para pekerja di pabrik pengolahan
pupuk organik miliknya.
"Oke.."
jawabku singkat.
"Yess.."
begitu kataku dalam hati. Ada rasa bahagia setelah mendengar kesediaannya untuk
berangkat bersamaku. Ada rasa rindu setelah hampir dua migggu tak lagi bertemu.
Ya, sejak acara seminar di kota Tasik itu, aku dan dia belum pernah ketemu
lagi. Selama ini kami hanya berkomunikasi via whatsapp saja.
….
Hari
yang dinantipun tiba. Aku bersiap menunggunya di pinggir jalan. Agak lama juga
menunggu kedatangannya. Sekitar pukul 11.30 dia muncul ditemani anak perempuan
semata wayangnya. Aku pun segera masuk mobil. Kali ini aku duduk di jok
belakang karena jok depan di sampingnya sudah diisi oleh anaknya. Setelah semua
dirasa beres, dia menstater mobilnya dan melaju menuju kampus.
Tiba
di kampus, kami langsung menuju lokasi gladi bersih yang bertempat di
auditorium. Kami datang agak terlambat sehingga harus mencari tahu kursi nomor
duduk yang sudah ditetapkan panitia. Dengan dibantu oleh panitia, kami
menemukan kursi tempat duduk. Qodarullah tempat duduk kami bersebelahan,
mungkin karena sejak bimbingan hingga sidang tesis selalu bersama jadi
kemungkinan besar tempat dudukpun dibuat sesuai kelulusan sidang.
Usai
mengikuti gladi bersih, kami menuju ke bagian TU kampus untuk mengambil baju
kebesaran toga. Setelah itu kami beranjak pulang mempersiapkan segala sesuatu
untuk acara wisuda keesokan harinya.
Untuk
acara wisuda, aku tak lagi menumpang mobilnya, karena kami akan datang dengan
keluarga masing-masing. Aku akan mencarter mobil sewaan dan mengajak serta ayah
ibuku menghadiri moment yang berbahagia ini
....
Pagi-pagi
sekali aku sudah tiba di lokasi wisuda. Bersama teman-teman wisudawan yang lain
aku diminta berkumpul di depan gedung pascasarjana dan berbaris untuk menuju ke
auditorium. Di antara para wisudawan, aku belum melihatnya datang. Kucoba kirim
pesan ke WA-nya menanyakan posisinya lagi dimana, tapi centang satu pertanda
tak aktif. Perlahan barisan wisudawan berjalan menuju auditorium. Satu persatu
masuk ke dalam dan duduk di kursi yang telah disediakan. Beberapa teman yang
duduk sejajar menanyakan keberadaan Bu Nia yang belum hadir. Mungkin mereka heran
karena biasanya kami selalu datang bersama-sama.
Setengah
jam berlalu, tiba-tiba handphone ku berbunyi. Kulihat dia memanggilku. Kuangkat
dan kutanyakan posisinya dimana. Rupanya dia terjebak macet di pintu gerbang
kampus dan sedang menuju tempat parkir. Kubilang acara belum dimulai, masih
bersiap-siap cek sound dan lain-lainnya.
Dengan
terengah-engah akhirnya diapun muncul. Dibalut kebaya warna peach dengan
make up tipis dan warna lipstik yang senada, dia nampak cantik dan anggun
keibuan. Aku berdiri menyambutnya dan mempersilakannya duduk di kursi
sebelahku. Begitupun dengan teman-teman yang lain, mereka menyambutnya
dengan bersalaman.
Prosesi
wisuda pun berjalan lancar. Sekitar pukul 12 acara selesai, dilanjutkan dengan
sesi poto-poto. Sebelum berpisah kami beserta teman-teman saling memberi
selamat. Ada perasaan bahagia, bangga, haru dan perasaan sedih karena harus
berpisah setelah kurang lebih 2 tahun menuntut ilmu bersama-sama. Selanjutnya
satu per satu kamipun pamit dan beriringan menuju keluar gedung disambut oleh
keluarga masing-masing.
Aku
dan Bu Nia yang saat itu datang tanpa pendamping hidup, merasa santai berjalan
di antara kerumunan orang. Kami menikmati suasana dengan cara berselfi ria
mengabadikan momen bahagia itu. Dengan wajah berseri, Bu Nia tak hentinya selfi
bersamaku. Dia bilang untuk kenang-kenangan karena setelah wisuda ini
kemungkinan tak akan bertemu lagi.
Mendengar
kata-katanya, hatiku merasa tak karuan. Ingin rasanya kuutarakan maksud hati
untuk meminangnya. Tapi aku ragu dan takut merusak persahabatan ini. Aku tak
mau kebaikannya selama ini berubah jadi keburukan. Biarlah untuk sementara
kupendam rasa cinta ini.
Aku
hanya punya satu pertanyaan, mungkinkah seorang janda dengan status PNS yang
juga seorang pengusaha akan bersedia menerima kehadiran seorang duda rasa
perjaka?***

Komentar
Posting Komentar