Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

Cerbung: Sengsara Membawa Nikmat (3)

Sengsara Membawa Nikmat (3) Oleh : Tika Ihwatika Resmilah sudah kami pacaran. Setiap Sabtu sore aku selalu menunggunya pulang dari asrama dan mengantarkannya sampai di ujung gang menuju rumahnya. Hanya sebatas itulah pacaran kami, bertemu satu minggu sekali jika dia pulang dari asrama. Aku belum berani berkunjung ke rumahnya karena takut kalau orang tuanya tak setuju dengan hubunganku. Lagi pula dia belum pernah mengajakku main ke rumahnya. Hingga suatu hari aku memberanikan diri meminta ijin untuk main ke rumahnya di hari Minggu. Dia tak keberatan, bahkan dengan senang hati mempersilakanku untuk mengunjunginya. Aku tanyakan apakah orang tuanya takkan marah jika aku main ke rumahnya? Dia menjawab agar dicoba dulu, nanti lihat bagaimana sikapnya. Dia juga mengatakan kalau ayahnya sudah sakit-sakitan. Sementara ibu kandungnya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Sekarang dia punya ibu tiri yang berprofesi sebagai guru. Mendengar ceritanya itu, aku jadi semakin sayang padanya, dan ...

Cerbung: Sengsara Membawa Nikmat (2)

Sengsara Membawa Nikmat (2) Oleh: Tika Ihwatika Puji syukur aku bisa menyelesaikan sekolah keguruanku sampai tamat. Tak kan kuceritakan suka dukanya menjalani kehidupan selama tiga tahun itu. Yang jelas banyak sekali hikmah yang kudapat selama bekerja di toko. Selain bisa sekolah, aku juga jadi punya keterampilan bisa menyetir mobil. Ya.. atas kebaikan majikan, aku diberi ijin untuk  belajar mengemudi secara mandiri menggunakan mobil miliknya. Beruntung sekali aku bisa mendapatkan bos sebaik dia. Oh ya.. setelah lulus sekolah, aku tak langsung pulang kampung. Aku tetap bekerja di toko. Namun setelah bisa menyetir mobil, aku dipercaya untuk mengantar jemput anaknya ke sekolah. Selain itu aku diminta untuk membimbing dan memberi les anaknya pada malam hari. Jadi aku tak lagi disibukkan dengan tugas berat di toko. Alhamdulillah aku  bersyukur sekali dengan kondisi ini. Aku semakin percaya bahwa dengan ilmu derajat kita akan meningkat. Bapak, ibu, Kak Doni, kak Ela dan kedua ka...

Cerbung: Sengsara Membawa Nikmat (1)

Sengsara Membawa Nikmat (1) Oleh: Tika Ihwatika Tak pernah kubayangkan akan menjadi seorang guru dengan status PNS, mengingat aku hanyalah seorang pemuda yang miskin. Aku juga tak menyangka akan memiliki jodoh seorang bidan yang juga berstatus PNS. Semua berjalan tanpa kurencanakan. Namun aku mensyukuri semuanya sebagai takdir baik yang Allah berikan untukku. Alhamdulillah*** Terlahir sebagai bungsu dari 4 bersaudara, aku harus puas bersekolah hingga SMP saja. Saat itu ayah dan ibu sudah renta dan tak sanggup lagi membiayai sekolahku. Aku diminta untuk tidak melanjutkan ke tingkat SMA. Hal ini membuat hatiku sedih dan kecewa. Ada perasaan iri pada kak Doni kakak sulungku yang bisa melanjutkan sekolahnya hingga ke tingkat SMA, bahkan saat itu kak Doni sudah bekerja sebagai guru PNS di kota Garut. Sementara aku dan kedua kakakku yang lain tak mendapatkan kesempatan yang sama. Namun kecewaku tak berlangsung lama. Setelah ijazah SMP kuterima, kak Doni mengirim surat yang isinya menyuru...

Kutemukan Cinta di Ibukota (Cerpen)

Kutemukan Cinta di Ibukota Oleh: Tika Ihwatika      sources : hipwee Tak pernah terpikir olehku untuk berada di ibukota dalam waktu yang lumayan lama. Apalagi dengan kondisi dan situasi hati yang tersakiti. Tanpa kedua orang tua dan orang-orang tersayang. Tapi aku mencoba bertahan dan sabar menjalani semuanya demi kebaikanku. Ya, aku terpaksa pergi untuk sekedar menenangkan diri atas sesuatu yang menimpaku. Sebuah penghianatan atas janji yang terpatri dari seorang lelaki.  Ah.. sudahlah aku tak mau membahasnya lagi. Kurelakan semua yang terjadi sebagai takdir terbaik dari Illahi. Kupasrahkan semuanya pada Sang Maha Bijaksana. "Ayo, kamu ke sini aja jangan terus bersedih. Kasihan mamamu setiap hari melihatmu mengurung diri di kamar. Kamu harus bangkit. Jangan biarkan mamamu sakit karena memikirkan masalahmu," demikian kata-kata bibi yang kudengar lewat telpon. Suaranya yang melengking dengan gaya bicaranya yang nyeroscos menambah pusing kepalaku....

Cerpen: Dia dalam Ingatanku

Dia dalam Ingatanku Oleh : Tika Ihwatika Sore ini aku berniat untuk tidak segera pulang ke rumah, meski sebenarnya dari kantor tempatku bekerja sudah bubaran. Sengaja kubelokkan honda varioku ke arah rumah kakakku di daerah Kiara Condong. Sore ini aku ingin bercerita tentang pertemuanku dengan seseorang yang dulu sangat aku dambakan kehadirannya. Dia yang semasa sekolah dulu sering kuledek karena sikapnya yang kekanak-kanakkan. Dia yang menurutku tak peka dengan apa yang kuperbuat. Dia yang bersikap “lurus” dan terkesan tak acuh dengan segala hal yang kulakukan. Ah dia… dia .. dan hanya dia yang ada dalam fikiranku saat ini. “ Assalamu`alaikum,” aku mengucapkan salam sambil masuk ke rumah kakakku. “Wa`alaikumussalam,” terdengar suara kakakku dari ruang tengah.“Eh,, kamu Zein, tumben kesini, ada apa?” “Main aja atuh Teh, emangnya gak boleh gitu?” jawabku sambil duduk di sofa ruang tengah. “Ya boleh atuuh ,, kamu kan adik Teteh,” katanya sambil menyodorkan tangannya meng...

Fikmin : Samarang dalam Kenangan

Samarang dalam Kenangan Oleh : Tika Ihwatika Menginjakkan kaki kembali di daerah Samarang Kabupaten Garut dalam rangka refreshing ke tempat wisata Puncak Darajat, membuat pikiranku berselancar ke masa 28 tahun yang lalu saat berkunjung ke rumah salah seorang sahabatku sewaktu sekolah. Saat itu tanpa rencana, tiba-tiba ada seseorang yang sudah kuanggap kakak memintaku untuk mengantarnya ke rumah sahabatku itu. Sebut saja namanya Deni, dan aku memanggilnya dengan sebutan Kang Deni. Dengan perasaan heran aku bertanya ada kepentingan apa dia mengajakku berkunjung ke sana. Kang Deni tak menjawabku dengan lisan, tapi dia memberikan selembar kertas untuk kubaca. Dalam kertas yang ternyata balasan surat cinta itu terlihat tulisan sahabatku yang mengatakan,”Dalam kertas ini serba terbatas, lebih baik datang saja ke rumahku.” Begitu bunyi surat yang kubaca. Usai membaca surat itu, aku tersenyum lucu. Kulipat kembali surat itu dan kuberikan pada kang Deni. Nampak dia tak sabar menunggu ...

Fikmin : Ayah Dalam Ingatanku

Ayah dalam Ingatanku Tak ada potonya di setumpuk albumku untuk kubuka dan kutatap kala kurindu. Sosoknya begitu lekat dalam ingatanku. Meski telah berpuluh tahun dia meninggalkanku untuk selama-lamanya. Ya.. dia ayahku yang dipanggil Tuhan pada saat usiaku baru menginjak 8 tahun. Perawakannya yang tinggi semampai dengan kulitnya yang sawo matang,masih tergambar jelas dalam benakku. Meski tak banyak, namun aku mampu menyimpan beberapa kenangan dengannya di memoriku. Aku masih ingat saat dia menggendongku di belakang punggungnya. Aku juga ingat saat dibawa naik ojek saat kami pulang dari pasar. Aku yang merupakan anak bungsu dari enam bersaudara sering kali diajak bepergian ke rumah saudara ayah di Bandung. Hal ini tentu saja membuat iri kakak-kakakku yang lain. Mereka bilang jika ayah telah pilih kasih terhadap mereka. Ah.. entahlah saat itu aku masih terlalu kecil untuk mengerti apa yang mereka maksud. Sampailah pada suatu waktu, dimana ayahku dirawat di rumah sakit. Entah bera...

Fikmin: Ibu Pahlawanku

Ibuku Pahlawanku “ Ibuku sayang, masih terus berjalan. Walau tapak kaki penuh darah penuh nanah…” Lengkingan suara khas Iwan Fals yang kudengar dari sound sebuah bis kota menemani perjalananku menuju kampus. Duduk sendiri di jok barisan depan membuat lantunan suara sang penyanyi kawakan ini terdengar dengan jelas di telingaku. Spontan bibirku pun komat-kamit mengikuti lirik lagu berjudul Ibu itu. Meski bukan penggemar Iwan Fals tapi aku tahu dan lumayan hapal lirik lagunya. Seketika pikiranku melayang ke masa lalu, saat aku masih duduk di kelas dua sekolah dasar (SD). Saat itu ayahku meninggal karena penyakit typus yang dideritanya. Sementara ibuku hanya seorang ibu rumah tangga biasa yang mau tak mau harus siap membesarkan aku dan kelima kakak-kakakku yang masih kecil-kecil. Dengan segala daya dan upaya serta keterampilan yang dimilikinya, ibu berusaha keras menghidupi kami, keenam anaknya. Dua kakak tertuaku yang saat itu duduk di bangku SLTA harus keluar karena tak ada biaya....

Fikmin : Mendua Hati

Mendua Hati Aku tahu apa yang kulakukan ini akan berakibat buruk, baik untuk kelangsungan rumah tanggaku maupun terhadap profesiku. Tapi jika semuanya sampai terungkap dan muncul ke permukaan aku pun sudah siap dengan argumentasi sebagai pembelaan. Aku pun sudah siap dengan segala konsekuensinya. Ya..sudah enam tahun ini aku menyimpan rahasia besar yang jika istriku tahu, pasti akan berakibat fatal bagi keutuhan rumah tangga kami, karena secara diam-diam aku telah menikah lagi dengan salah seorang janda di kampung tempatku bertugas. Hal ini kulakukan dengan alasan yang bisa dipertanggung jawabkan. Dan alasan ini sempat kusampaikan kepada kepala sekolah sebagai atasan langsungku pada saat beliau memintaku untuk menghadapnya di ruang kepala sekolah. “ Maaf sebelumnya, Pak Zaki. Saya dapat kabar katanya bapak sudah menikah lagi. apakah kabar itu benar,Pak?” kepala sekolah memulai pembicaraan degan penuh hati-hati. “Iya betul, Pak. Saya sudah menikah lagi. Maaf jika selama ini saya...

DO'A (Cerita Pendek)

The Power Of Do'a Oleh : Tika Ihwatika pic by pixabay Ini adalah ceritaku tentang betapa dahsyatnya kekuatan sebuah do`a. Pengalaman yang pertama adalah pada saat melahirkan anak ketiga. Saat itu usiaku menginjak 39 tahun, usia yang tak muda lagi dan sangat beresiko untuk melahirkan. Namun aku tetap semangat menyambut kehadiran buah hatiku yang menurut hasil USG berjenis kelamin laki-laki sesuai harapanku. Ya.. aku sangat mengharapkan kehadiran anak laki-laki untuk melengkapi kebahagiaan rumah tanggaku setelah sebelumnya memiliki dua orang putri. Kehamilan yang ketiga ini diawali dengan kerinduanku akan hadirnya seorang bayi di rumah. Ada rasa rindu ingin menyusui dan menggendong bayi. Berbagai upaya kulakukan agar aku bisa segera hamil lagi. Selain tidak ber-KB akupun   mendatangi tukang pijat untuk mencoba melemaskan otot-otot di sekitar rahim. Saat itu tukang pijat mengatakan jika rahimku terasa kering, dia bilang mungkin akibat sering minum jamu. Tapi aku membantahnya ...

Cerpen : Suka Duka di GBK

Suka Duka di GBK Oleh : Tika Ihwatika,S.Pd.SD Guru SDN 1 Linggawangi Kec. Leuwisari Sungguh suatu kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri bisa ikut berangkat dan menyaksikan acara puncak perayaan HUT PGRI ke-70 yang diselenggarakan di Gelora Bung Karno pada hari Minggu tanggal 9 Desember 2015 lalu. Tak dapat diungkapkan dengan kata-kata betapa senangnya hatiku ketika tiba-tiba Bu Hj. Awang Munawaroh,S.Pd. yang menjabat ketua ranting PGRI   memintaku untuk berangkat menghadiri acara bergengsi itu. Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung mengiyakan permintaan itu. Jujur saja selain ingin menyaksikan puncak perayaan HUT PGRI itu secara langsung, motivasiku berangkat karena ingin tahu dngan jelas seperti apa Gelora Bung Karno itu. Ya,, selama ini saya hanya bisa melihat Gelora Bung Karno yang terkenal dengan GBK itu hanya di televisi saja. Tak kan banyak yang kuceritakan bagaimana kisah kami selama di perjalanan menuju ibu kota Jakarta ini. Hanya sedikit saja sebagai pengantar...

Cerpen : Yang Tak Sempat Terucap

Yang Tak Sempat Terucap Oleh : Tika Ihwatika Pagi ini usai menunaikan sholat subuh, kurebahkan diri di sofa depan televisi. Tak lupa kusempatkan membuka hp androidku yang tergeletak di atas meja. Nampak beberapa pesan masuk. Kubaca satu persatu. Sampailah pada pesan masuk dari seorang kawan lama masa remaja. Dia mengirimkan hasil karya tulisnya yang berjudul “ Kupanggil Dirinya Abang”. Aku membacanya hingga tuntas. Tulisan yang ringan dan enak dibaca. Yang bercerita tentang masa remaja kami saat masih berseragam putih abu. Sesekali aku tersenyum membacanya merasa lucu. Dengan cerita itu, pandai sekali dia membawa anganku berselancar ke masa lalu. Aku mengapresiasinya dengan menuliskan sebait puisi kekaguman. Kusimpan kembali androidku di tempat semula. Aku bergegas menuju kamar mandi dan bersiap berangkat ke tempat kerja. Tiba di tempat kerja, hpku kembali berbunyi. Aku segera membukanya. Ternyata pesan masuk dari dia lagi. Kali ini dia hanya menuliskan kalimat singkat,” terim...

Semua Karena Cinta (Cerpen)

Semua Karena Cinta Oleh: Tika Ihwatika Cr : Pinterest Menjalani peran sebagai ibu dari dua orang anak tanpa kehadiran ayahnya di rumah, merupakan takdir yang harus kuterima.   Bagaimana tidak, aku harus rela dicerai oleh suamiku pada saat kedua buah hati kami masih sangat kecil. Sebagai seorang isteri, aku tak mampu menolak keinginan suami dan kedua orang tuanya yang bersikeras untuk mengakhiri pernikahan kami yang baru menginjak tahun keenam. Aku yang pada saat itu sedang labil benar-benar terusir dari rumah suami, pergi dengan membawa dua orang balita tanpa bisa berbuat apa-apa. Beruntung aku masih mempunyai kedua orang tua yang siap menerima dan menampung aku beserta kedua anakku untuk tinggal di rumahnya. Tak dapat dilukiskan betapa sakit dan perihnya hatiku saat itu. Aku hanya bisa berdoa memohon kekuatan dan kesabaran atas apa yang terjadi padaku. Masih kuingat bagaimana awal perjumpaan aku dengan suamiku Dudi yang dipertemukan melalui perjodohan oleh seorang saudar...