Langsung ke konten utama

Cerbung: Sengsara Membawa Nikmat (1)

Sengsara Membawa Nikmat (1)
Oleh: Tika Ihwatika



Tak pernah kubayangkan akan menjadi seorang guru dengan status PNS, mengingat aku hanyalah seorang pemuda yang miskin. Aku juga tak menyangka akan memiliki jodoh seorang bidan yang juga berstatus PNS. Semua berjalan tanpa kurencanakan. Namun aku mensyukuri semuanya sebagai takdir baik yang Allah berikan untukku. Alhamdulillah***


Terlahir sebagai bungsu dari 4 bersaudara, aku harus puas bersekolah hingga SMP saja. Saat itu ayah dan ibu sudah renta dan tak sanggup lagi membiayai sekolahku. Aku diminta untuk tidak melanjutkan ke tingkat SMA. Hal ini membuat hatiku sedih dan kecewa. Ada perasaan iri pada kak Doni kakak sulungku yang bisa melanjutkan sekolahnya hingga ke tingkat SMA, bahkan saat itu kak Doni sudah bekerja sebagai guru PNS di kota Garut. Sementara aku dan kedua kakakku yang lain tak mendapatkan kesempatan yang sama.

Namun kecewaku tak berlangsung lama. Setelah ijazah SMP kuterima, kak Doni mengirim surat yang isinya menyuruhku untuk berangkat ke rumahnya di Garut. Ya,, saat itu komunikasi hanya sebatas surat menyurat, belum ada telpon apalagi hp dan android seperti sekarang.

Bergegas aku berangkat menuju kota Garut. Meski tak tahu pasti apa maksud kak Doni menyuruhku datang, tapi aku bersiap dengan membawa serta ijazah SMPku. Aku hanya menduga-duga kalau kakakku itu akan memasukkanku kerja di pabrik.

Tiba di rumah kak Doni, aku disambut baik oleh Kak Ela kakak iparku. Kebetulan saat itu kak Doni belum pulang dari sekolah tempat tugasnya. Kak Ela mempersilakan aku untuk istirahat di kamar. Tak lupa beliau juga menawariku untuk makan, tapi aku menolaknya dengan alasan masih kenyang jajan di perjalanan. Aku hanya minta dibuatkan kopi pahit saja untuk mengusir penat.

Tepat pukul satu siang, kak Doni pulang dari sekolah. Aku langsung menyambut dan menyalaminya di depan pintu. Setelah berbasa basi sebentar, kak Doni pamit mau ganti pakaian dinasnya. Wajahnya nampak lelah, kubiarkan beliau berlalu menuju kamarnya untuk beristirahat.

Sementara itu, aku masuk ke ruang tengah dan duduk di sofa sambil nonton tv.

"Apa kabar bapak dan ibu, Di?" tiba-tiba kak Doni muncul di ruang tengah dan berjalan mendekatiku lalu duduk di sofa di samping sofa yang kududuki.

"Alhamdulillah bapak sama ibu sehat, mereka masih kuat pergi ke sawah," jawabku sambil melirik ke arah kak Doni.

"Seharusnya bapak dan ibu itu istirahat di rumah, jangan ke sawah melulu. Kalau sudah sakit kan kasihan," kata kak Doni setengah bergumam.

"Ya, harusnya sih begitu, tapi bapak sama ibu gak bisa dilarang, katanya suntuk dan bosan kalau diam di rumah terus," jawabku seraya menyandarkan punggungku pada sandaran sofa.

Hingga menjelang ashar aku dan Kak Doni ngobrol panjang lebar. Banyak hal yang ditanyakan perihal sekolah dan harapanku masa depan. Kukatakan pada kak Doni kalau aku ingin melanjutkan sekolah. Rupanya Kak Doni merasa kasihan padaku. Dia menasihatiku agar bersabar dan mau berusaha keras dalam mencapai cita-cita. Dia juga bercerita tentang kerja kerasnya dahulu hingga bisa jadi guru PNS.

Dari ceritanya aku jadi tahu kalau ternyata dulu kak Doni itu sekolah sambil bekerja. Pagi-pagi sekolah dan siangnya kerja di Juragan Dirga pengusaha meubel. Bapak dan ibu hanya sesekali saja mengirimkan biaya jika mereka sedang ada rizki lebih.

Entah karena termakan cerita kak Doni atau karena dorongan keinginan yang kuat untuk melanjutkan sekolah, secara spontan aku mengajukan usul supaya bisa bersekolah sambil bekerja seperti kak Doni dahulu.

Setelah melalui perbincangan dan pemikiran yang matang akhirnya kuputuskan untuk melanjutkan sekolah sambil bekerja. Kak Doni memasukanku bekerja di toko sembako yang kebetulan pemiliknya adalah sahabat dekatnya. Di sana aku bekerja pada siang hari sepulang dari sekolah hingga pukul 7 malam. Kak Doni juga menyarankan agar aku daftar sekolah keguruan dengan harapan kelak aku bisa seperti dirinya menjadi guru PNS.

Selama tiga tahun kujalani hari-hariku dengan penuh keprihatinan. Nyaris tak ada waktu untuk bisa main seperti teman-teman seusiaku. Sehabis solat subuh aku membantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga sekedar meringankan tugas Kak Ela. Pagi-pagi berangkat sekolah hingga pukul 13.00 siang. Dari sekolah  langsung menuju ke toko tempat kerjaku hingga pukul 19.00 malam. Selesai dari pekerjaan lalu pulang ke rumah kakak, dan berkutat mengerjakan tugas sekolah. Begitulah rutinitasku sehari-hari saat itu.

Bersambung

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerbung: Sengsara Membawa Nikmat (2)

Sengsara Membawa Nikmat (2) Oleh: Tika Ihwatika Puji syukur aku bisa menyelesaikan sekolah keguruanku sampai tamat. Tak kan kuceritakan suka dukanya menjalani kehidupan selama tiga tahun itu. Yang jelas banyak sekali hikmah yang kudapat selama bekerja di toko. Selain bisa sekolah, aku juga jadi punya keterampilan bisa menyetir mobil. Ya.. atas kebaikan majikan, aku diberi ijin untuk  belajar mengemudi secara mandiri menggunakan mobil miliknya. Beruntung sekali aku bisa mendapatkan bos sebaik dia. Oh ya.. setelah lulus sekolah, aku tak langsung pulang kampung. Aku tetap bekerja di toko. Namun setelah bisa menyetir mobil, aku dipercaya untuk mengantar jemput anaknya ke sekolah. Selain itu aku diminta untuk membimbing dan memberi les anaknya pada malam hari. Jadi aku tak lagi disibukkan dengan tugas berat di toko. Alhamdulillah aku  bersyukur sekali dengan kondisi ini. Aku semakin percaya bahwa dengan ilmu derajat kita akan meningkat. Bapak, ibu, Kak Doni, kak Ela dan kedua ka...

Cerbung: Sengsara Membawa Nikmat (3)

Sengsara Membawa Nikmat (3) Oleh : Tika Ihwatika Resmilah sudah kami pacaran. Setiap Sabtu sore aku selalu menunggunya pulang dari asrama dan mengantarkannya sampai di ujung gang menuju rumahnya. Hanya sebatas itulah pacaran kami, bertemu satu minggu sekali jika dia pulang dari asrama. Aku belum berani berkunjung ke rumahnya karena takut kalau orang tuanya tak setuju dengan hubunganku. Lagi pula dia belum pernah mengajakku main ke rumahnya. Hingga suatu hari aku memberanikan diri meminta ijin untuk main ke rumahnya di hari Minggu. Dia tak keberatan, bahkan dengan senang hati mempersilakanku untuk mengunjunginya. Aku tanyakan apakah orang tuanya takkan marah jika aku main ke rumahnya? Dia menjawab agar dicoba dulu, nanti lihat bagaimana sikapnya. Dia juga mengatakan kalau ayahnya sudah sakit-sakitan. Sementara ibu kandungnya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Sekarang dia punya ibu tiri yang berprofesi sebagai guru. Mendengar ceritanya itu, aku jadi semakin sayang padanya, dan ...