Sengsara Membawa Nikmat (3)
Oleh : Tika Ihwatika
Resmilah sudah kami pacaran. Setiap Sabtu sore aku selalu menunggunya pulang dari asrama dan mengantarkannya sampai di ujung gang menuju rumahnya. Hanya sebatas itulah pacaran kami, bertemu satu minggu sekali jika dia pulang dari asrama. Aku belum berani berkunjung ke rumahnya karena takut kalau orang tuanya tak setuju dengan hubunganku. Lagi pula dia belum pernah mengajakku main ke rumahnya.
Hingga suatu hari aku memberanikan diri meminta ijin untuk main ke rumahnya di hari Minggu. Dia tak keberatan, bahkan dengan senang hati mempersilakanku untuk mengunjunginya. Aku tanyakan apakah orang tuanya takkan marah jika aku main ke rumahnya? Dia menjawab agar dicoba dulu, nanti lihat bagaimana sikapnya. Dia juga mengatakan kalau ayahnya sudah sakit-sakitan. Sementara ibu kandungnya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Sekarang dia punya ibu tiri yang berprofesi sebagai guru. Mendengar ceritanya itu, aku jadi semakin sayang padanya, dan semakin meneguhkan hati untuk bersungguh-sungguh menjadikannya calon istriku.
Tibalah hari Minggu yang dimaksud. Aku berkunjung ke rumahnya dengan perasaan yang tak menentu. Hatiku dag dig dug karena baru pertama kali berkunjung ke rumah cewek. Tiba di rumahnya, dia menyambutku dengan wajah ceria. Dia mempersilakanku duduk di ruang tamu, sementara itu dia masuk ke ruang dalam. Tak lama kemudian dia muncul bersama kedua orang tuanya. Aku dikenalkan kepada mereka. Sekilas aku bisa menangkap bagaimana sikap ayah dan ibu tirinya. Ayahnya nampak agak garang dan kurang senyum, sementara ibu tirinya nampak baik, berbasa basi menanyakan kabarku dengan senyuman yang tersungging di bibirnya.
Aku berusaha keras untuk bersikap sebaik mungkin di hadapan orang tua Sinta. Beberapa pertanyaan dari ayahnya kujawab dengan sangat hati-hati. Aku takut ada kata atau kalimat yang kurang sopan terlontar dari mulutku. Sinta yang saat itu duduk di samping ayahnya terlihat gelisah. Beberapa kali matanya melirik ke arahku seolah memberi kode kalau aku harus segera pamit. Akupun paham dan segera pamitan pulang.
Sinta mengantarku sampai di pintu pagar halaman.
"Kalau dilayani terus, bisa sampai malam ayah mencecarmu dengan berbagai pertanyaan," Ucap Sinta setengah berbisik.
"Emangnya kenapa, Sin? Aku justru senang ditanya macam-macam sama ayahmu," jawabku sambil terkekeh.
"Terima kasih ya udah ngenalin aku sama calon mertuaku," ucapku lagi menggoda Sinta yang masih berdiri di pintu pagar.
"Iih genit ah," ayo pulang sana. Cari uang yang banyak ya biar calon mertuamu setuju," jawabnya sambil tertawa.
Ah..melihatnya tertawa, aku yakin kalau Sinta merasa bahagia dengan kunjungan pertamaku ini.
Komentar
Posting Komentar