Langsung ke konten utama

Postingan

Fikmin : Samarang dalam Kenangan

Samarang dalam Kenangan Oleh : Tika Ihwatika Menginjakkan kaki kembali di daerah Samarang Kabupaten Garut dalam rangka refreshing ke tempat wisata Puncak Darajat, membuat pikiranku berselancar ke masa 28 tahun yang lalu saat berkunjung ke rumah salah seorang sahabatku sewaktu sekolah. Saat itu tanpa rencana, tiba-tiba ada seseorang yang sudah kuanggap kakak memintaku untuk mengantarnya ke rumah sahabatku itu. Sebut saja namanya Deni, dan aku memanggilnya dengan sebutan Kang Deni. Dengan perasaan heran aku bertanya ada kepentingan apa dia mengajakku berkunjung ke sana. Kang Deni tak menjawabku dengan lisan, tapi dia memberikan selembar kertas untuk kubaca. Dalam kertas yang ternyata balasan surat cinta itu terlihat tulisan sahabatku yang mengatakan,”Dalam kertas ini serba terbatas, lebih baik datang saja ke rumahku.” Begitu bunyi surat yang kubaca. Usai membaca surat itu, aku tersenyum lucu. Kulipat kembali surat itu dan kuberikan pada kang Deni. Nampak dia tak sabar menunggu ...

Fikmin : Ayah Dalam Ingatanku

Ayah dalam Ingatanku Tak ada potonya di setumpuk albumku untuk kubuka dan kutatap kala kurindu. Sosoknya begitu lekat dalam ingatanku. Meski telah berpuluh tahun dia meninggalkanku untuk selama-lamanya. Ya.. dia ayahku yang dipanggil Tuhan pada saat usiaku baru menginjak 8 tahun. Perawakannya yang tinggi semampai dengan kulitnya yang sawo matang,masih tergambar jelas dalam benakku. Meski tak banyak, namun aku mampu menyimpan beberapa kenangan dengannya di memoriku. Aku masih ingat saat dia menggendongku di belakang punggungnya. Aku juga ingat saat dibawa naik ojek saat kami pulang dari pasar. Aku yang merupakan anak bungsu dari enam bersaudara sering kali diajak bepergian ke rumah saudara ayah di Bandung. Hal ini tentu saja membuat iri kakak-kakakku yang lain. Mereka bilang jika ayah telah pilih kasih terhadap mereka. Ah.. entahlah saat itu aku masih terlalu kecil untuk mengerti apa yang mereka maksud. Sampailah pada suatu waktu, dimana ayahku dirawat di rumah sakit. Entah bera...

Fikmin: Ibu Pahlawanku

Ibuku Pahlawanku “ Ibuku sayang, masih terus berjalan. Walau tapak kaki penuh darah penuh nanah…” Lengkingan suara khas Iwan Fals yang kudengar dari sound sebuah bis kota menemani perjalananku menuju kampus. Duduk sendiri di jok barisan depan membuat lantunan suara sang penyanyi kawakan ini terdengar dengan jelas di telingaku. Spontan bibirku pun komat-kamit mengikuti lirik lagu berjudul Ibu itu. Meski bukan penggemar Iwan Fals tapi aku tahu dan lumayan hapal lirik lagunya. Seketika pikiranku melayang ke masa lalu, saat aku masih duduk di kelas dua sekolah dasar (SD). Saat itu ayahku meninggal karena penyakit typus yang dideritanya. Sementara ibuku hanya seorang ibu rumah tangga biasa yang mau tak mau harus siap membesarkan aku dan kelima kakak-kakakku yang masih kecil-kecil. Dengan segala daya dan upaya serta keterampilan yang dimilikinya, ibu berusaha keras menghidupi kami, keenam anaknya. Dua kakak tertuaku yang saat itu duduk di bangku SLTA harus keluar karena tak ada biaya....

Fikmin : Mendua Hati

Mendua Hati Aku tahu apa yang kulakukan ini akan berakibat buruk, baik untuk kelangsungan rumah tanggaku maupun terhadap profesiku. Tapi jika semuanya sampai terungkap dan muncul ke permukaan aku pun sudah siap dengan argumentasi sebagai pembelaan. Aku pun sudah siap dengan segala konsekuensinya. Ya..sudah enam tahun ini aku menyimpan rahasia besar yang jika istriku tahu, pasti akan berakibat fatal bagi keutuhan rumah tangga kami, karena secara diam-diam aku telah menikah lagi dengan salah seorang janda di kampung tempatku bertugas. Hal ini kulakukan dengan alasan yang bisa dipertanggung jawabkan. Dan alasan ini sempat kusampaikan kepada kepala sekolah sebagai atasan langsungku pada saat beliau memintaku untuk menghadapnya di ruang kepala sekolah. “ Maaf sebelumnya, Pak Zaki. Saya dapat kabar katanya bapak sudah menikah lagi. apakah kabar itu benar,Pak?” kepala sekolah memulai pembicaraan degan penuh hati-hati. “Iya betul, Pak. Saya sudah menikah lagi. Maaf jika selama ini saya...

DO'A (Cerita Pendek)

The Power Of Do'a Oleh : Tika Ihwatika pic by pixabay Ini adalah ceritaku tentang betapa dahsyatnya kekuatan sebuah do`a. Pengalaman yang pertama adalah pada saat melahirkan anak ketiga. Saat itu usiaku menginjak 39 tahun, usia yang tak muda lagi dan sangat beresiko untuk melahirkan. Namun aku tetap semangat menyambut kehadiran buah hatiku yang menurut hasil USG berjenis kelamin laki-laki sesuai harapanku. Ya.. aku sangat mengharapkan kehadiran anak laki-laki untuk melengkapi kebahagiaan rumah tanggaku setelah sebelumnya memiliki dua orang putri. Kehamilan yang ketiga ini diawali dengan kerinduanku akan hadirnya seorang bayi di rumah. Ada rasa rindu ingin menyusui dan menggendong bayi. Berbagai upaya kulakukan agar aku bisa segera hamil lagi. Selain tidak ber-KB akupun   mendatangi tukang pijat untuk mencoba melemaskan otot-otot di sekitar rahim. Saat itu tukang pijat mengatakan jika rahimku terasa kering, dia bilang mungkin akibat sering minum jamu. Tapi aku membantahnya ...

Cerpen : Suka Duka di GBK

Suka Duka di GBK Oleh : Tika Ihwatika,S.Pd.SD Guru SDN 1 Linggawangi Kec. Leuwisari Sungguh suatu kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri bisa ikut berangkat dan menyaksikan acara puncak perayaan HUT PGRI ke-70 yang diselenggarakan di Gelora Bung Karno pada hari Minggu tanggal 9 Desember 2015 lalu. Tak dapat diungkapkan dengan kata-kata betapa senangnya hatiku ketika tiba-tiba Bu Hj. Awang Munawaroh,S.Pd. yang menjabat ketua ranting PGRI   memintaku untuk berangkat menghadiri acara bergengsi itu. Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung mengiyakan permintaan itu. Jujur saja selain ingin menyaksikan puncak perayaan HUT PGRI itu secara langsung, motivasiku berangkat karena ingin tahu dngan jelas seperti apa Gelora Bung Karno itu. Ya,, selama ini saya hanya bisa melihat Gelora Bung Karno yang terkenal dengan GBK itu hanya di televisi saja. Tak kan banyak yang kuceritakan bagaimana kisah kami selama di perjalanan menuju ibu kota Jakarta ini. Hanya sedikit saja sebagai pengantar...

Cerpen : Yang Tak Sempat Terucap

Yang Tak Sempat Terucap Oleh : Tika Ihwatika Pagi ini usai menunaikan sholat subuh, kurebahkan diri di sofa depan televisi. Tak lupa kusempatkan membuka hp androidku yang tergeletak di atas meja. Nampak beberapa pesan masuk. Kubaca satu persatu. Sampailah pada pesan masuk dari seorang kawan lama masa remaja. Dia mengirimkan hasil karya tulisnya yang berjudul “ Kupanggil Dirinya Abang”. Aku membacanya hingga tuntas. Tulisan yang ringan dan enak dibaca. Yang bercerita tentang masa remaja kami saat masih berseragam putih abu. Sesekali aku tersenyum membacanya merasa lucu. Dengan cerita itu, pandai sekali dia membawa anganku berselancar ke masa lalu. Aku mengapresiasinya dengan menuliskan sebait puisi kekaguman. Kusimpan kembali androidku di tempat semula. Aku bergegas menuju kamar mandi dan bersiap berangkat ke tempat kerja. Tiba di tempat kerja, hpku kembali berbunyi. Aku segera membukanya. Ternyata pesan masuk dari dia lagi. Kali ini dia hanya menuliskan kalimat singkat,” terim...