Langsung ke konten utama

Cerpen : Yang Tak Sempat Terucap

Yang Tak Sempat Terucap
Oleh : Tika Ihwatika

Pagi ini usai menunaikan sholat subuh, kurebahkan diri di sofa depan televisi. Tak lupa kusempatkan membuka hp androidku yang tergeletak di atas meja. Nampak beberapa pesan masuk. Kubaca satu persatu. Sampailah pada pesan masuk dari seorang kawan lama masa remaja. Dia mengirimkan hasil karya tulisnya yang berjudul “ Kupanggil Dirinya Abang”. Aku membacanya hingga tuntas. Tulisan yang ringan dan enak dibaca. Yang bercerita tentang masa remaja kami saat masih berseragam putih abu. Sesekali aku tersenyum membacanya merasa lucu. Dengan cerita itu, pandai sekali dia membawa anganku berselancar ke masa lalu. Aku mengapresiasinya dengan menuliskan sebait puisi kekaguman.
Kusimpan kembali androidku di tempat semula. Aku bergegas menuju kamar mandi dan bersiap berangkat ke tempat kerja. Tiba di tempat kerja, hpku kembali berbunyi. Aku segera membukanya. Ternyata pesan masuk dari dia lagi. Kali ini dia hanya menuliskan kalimat singkat,” terima kasih abang”. Karena kesibukan aku tak sempat membalasnya. Kubiarkan androidku tersimpan di tempatnya supaya tak mengganggu aktivitasku hari ini.
Namun apa hendak dikata, meski android kusimpan di tempatnya, tapi hati dan pikiranku melayang terbawa cerita yang dia kirimkan. Yach.. tak dapat dipungkiri betapa bergejolaknya hati ini usai membaca cerita itu. Aku tahu panggilan “abang” yang dia maksud dalam cerita itu adalah aku. Aku yang dulu sering meledek dan mengolok-oloknya, yang selalu membuatnya jengkel. Aku yang bersembunyi di balik celotehan lucu karena tak punya keberanian untuk mengungkapkan isi hati ini.
Masih lekat dalam ingatanku bagaimana dia menanggapi setiap lelucon atau gurauan dan ledekan yang kubuat. Dia nampak kekanak-kanakkan hingga seringkali aku menegurnya untuk bersikap lebih dewasa. Berbagai cara telah kulakukan untuk menarik perahatiannya. Namun dia tetap tidak menunjukkan respon yang positif. Dia nampak cuek dan seolah tak mengerti apa yang kurasa. Hingga akhirnya perpisahanpun terjadi, dan aku tak sempat mengungkapkannya.
Kini setelah hampir setahun terhubung melalui media sosial, aku merasa telah menemukan sesuatu yang hilang yang selama ini aku impikan. Beberapa kali terhubung di telepon dengan berbagai kelakar dan tawa renyahnya tak cukup membuatku puas hati. Semakin sering aku mendengar suaranya, semakin besar pula keinginanku bertemu dengannya. Aku benar-benar merindukannya. Namun sayang jarak yang jauh  memisahkan kami hingga sulit bagiku untuk segera meluapkan kerinduan ini.
Hingga akhirnya kuberanikan diri mengungkapkan apa yang kurasakan dulu. Dia nampak kaget dan tertawa merasa tak percaya. Dan aku bersikeras meyakinkannya meskipun terlambat adanya. Aku tak peduli apakah dia akan memarahiku atau membenciku setelah mengatakan ini. Yang terpenting bagiku adalah dia tahu jika sejak dahulu aku mencintai dan menyayanginya. Dia yang kini nampak begitu dewasa berusaha menyikapinya dengan bijak. Dia mengajakku untuk bersikap realistis bahwa apa yang terjadi semuanya adalah takdir terbaik dari yang maha kuasa.
Kini aku hanya bisa mengenang semuanya dengan rasa penyesalan yang mendalam. Aku hanya bisa menelan kekecewaan ini dengan hati perih. Aku menyesali dan merasa kecewa pada diri sendiri, pada ketidakberanian dan ketidakmampuanku mengungkapkan semua yang kurasakan padanya dahulu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerbung: Sengsara Membawa Nikmat (2)

Sengsara Membawa Nikmat (2) Oleh: Tika Ihwatika Puji syukur aku bisa menyelesaikan sekolah keguruanku sampai tamat. Tak kan kuceritakan suka dukanya menjalani kehidupan selama tiga tahun itu. Yang jelas banyak sekali hikmah yang kudapat selama bekerja di toko. Selain bisa sekolah, aku juga jadi punya keterampilan bisa menyetir mobil. Ya.. atas kebaikan majikan, aku diberi ijin untuk  belajar mengemudi secara mandiri menggunakan mobil miliknya. Beruntung sekali aku bisa mendapatkan bos sebaik dia. Oh ya.. setelah lulus sekolah, aku tak langsung pulang kampung. Aku tetap bekerja di toko. Namun setelah bisa menyetir mobil, aku dipercaya untuk mengantar jemput anaknya ke sekolah. Selain itu aku diminta untuk membimbing dan memberi les anaknya pada malam hari. Jadi aku tak lagi disibukkan dengan tugas berat di toko. Alhamdulillah aku  bersyukur sekali dengan kondisi ini. Aku semakin percaya bahwa dengan ilmu derajat kita akan meningkat. Bapak, ibu, Kak Doni, kak Ela dan kedua ka...

Cerbung: Sengsara Membawa Nikmat (3)

Sengsara Membawa Nikmat (3) Oleh : Tika Ihwatika Resmilah sudah kami pacaran. Setiap Sabtu sore aku selalu menunggunya pulang dari asrama dan mengantarkannya sampai di ujung gang menuju rumahnya. Hanya sebatas itulah pacaran kami, bertemu satu minggu sekali jika dia pulang dari asrama. Aku belum berani berkunjung ke rumahnya karena takut kalau orang tuanya tak setuju dengan hubunganku. Lagi pula dia belum pernah mengajakku main ke rumahnya. Hingga suatu hari aku memberanikan diri meminta ijin untuk main ke rumahnya di hari Minggu. Dia tak keberatan, bahkan dengan senang hati mempersilakanku untuk mengunjunginya. Aku tanyakan apakah orang tuanya takkan marah jika aku main ke rumahnya? Dia menjawab agar dicoba dulu, nanti lihat bagaimana sikapnya. Dia juga mengatakan kalau ayahnya sudah sakit-sakitan. Sementara ibu kandungnya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Sekarang dia punya ibu tiri yang berprofesi sebagai guru. Mendengar ceritanya itu, aku jadi semakin sayang padanya, dan ...

Cerbung: Sengsara Membawa Nikmat (1)

Sengsara Membawa Nikmat (1) Oleh: Tika Ihwatika Tak pernah kubayangkan akan menjadi seorang guru dengan status PNS, mengingat aku hanyalah seorang pemuda yang miskin. Aku juga tak menyangka akan memiliki jodoh seorang bidan yang juga berstatus PNS. Semua berjalan tanpa kurencanakan. Namun aku mensyukuri semuanya sebagai takdir baik yang Allah berikan untukku. Alhamdulillah*** Terlahir sebagai bungsu dari 4 bersaudara, aku harus puas bersekolah hingga SMP saja. Saat itu ayah dan ibu sudah renta dan tak sanggup lagi membiayai sekolahku. Aku diminta untuk tidak melanjutkan ke tingkat SMA. Hal ini membuat hatiku sedih dan kecewa. Ada perasaan iri pada kak Doni kakak sulungku yang bisa melanjutkan sekolahnya hingga ke tingkat SMA, bahkan saat itu kak Doni sudah bekerja sebagai guru PNS di kota Garut. Sementara aku dan kedua kakakku yang lain tak mendapatkan kesempatan yang sama. Namun kecewaku tak berlangsung lama. Setelah ijazah SMP kuterima, kak Doni mengirim surat yang isinya menyuru...