Ayah dalam Ingatanku
Tak
ada potonya di setumpuk albumku untuk kubuka dan kutatap kala kurindu. Sosoknya
begitu lekat dalam ingatanku. Meski telah berpuluh tahun dia meninggalkanku
untuk selama-lamanya. Ya.. dia ayahku yang dipanggil Tuhan pada saat usiaku
baru menginjak 8 tahun. Perawakannya yang tinggi semampai dengan kulitnya yang
sawo matang,masih tergambar jelas dalam benakku. Meski tak banyak, namun aku
mampu menyimpan beberapa kenangan dengannya di memoriku. Aku masih ingat saat
dia menggendongku di belakang punggungnya. Aku juga ingat saat dibawa naik ojek
saat kami pulang dari pasar.
Aku
yang merupakan anak bungsu dari enam bersaudara sering kali diajak bepergian ke
rumah saudara ayah di Bandung. Hal ini tentu saja membuat iri kakak-kakakku yang
lain. Mereka bilang jika ayah telah pilih kasih terhadap mereka. Ah.. entahlah
saat itu aku masih terlalu kecil untuk mengerti apa yang mereka maksud.
Sampailah
pada suatu waktu, dimana ayahku dirawat di rumah sakit. Entah berapa hari
lamanya. Aku dan kedua kakakku dititipkan bersama nenek dari ibuku. Sementara
tiga kakakku yang lain menemani ibu di rumah sakit. Saat itu aku benar-benar
tak tahu cobaan apa yang sedang menimpa keluargaku. Hingga tibalah saat yang
juga tak ku mengerti, tiba-tiba kakakku yang nomor dua menjerit dan menangis
meraung-raung. Kulihat pula orang-orang lalu lalang di depan rumahku. Aku hanya
melihatnya dengan heran.
Dalam
keherananku itu, aku berjalan mengikuti arus orang yang berjalan menuju suatu
tempat yang ternyata tempat yang dituju oleh mereka itu adalah rumah kakekku,
ayah dari ayahku. Kulihat banyak sekali orang yang berkerumun. Kucoba menyibak
mereka satu persatu hingga jelaslah kulihat tubuh ayah yang sudah terbujur kaku
dikelilingi oleh kakek, ibu dan kakak-kakakku yang menangis pilu. Menyaksikan
semua itu, barulah aku sadar jika ayah sudah menghembuskan nafas terakhirnya
dan meninggalkan kami keluarga yang dicintainya untuk selama-lamanya. Di antara
kerumunan orang itu, aku terisak sendiri tak tahu harus berbuat apa. Sepertinya tak ada orang yang peduli
kepadaku. Hingga akhirnya ibu menengok ke arahku. Beliau menghampiri dan
memeluk serta mendekapku erat-erat sambil berbisik memberitahu kalau ayah kami
telah tiada. Inna lillahi wainna ilaihi roojiuun.***
Komentar
Posting Komentar