Langsung ke konten utama

Fikmin : Samarang dalam Kenangan


Samarang dalam Kenangan
Oleh : Tika Ihwatika

Menginjakkan kaki kembali di daerah Samarang Kabupaten Garut dalam rangka refreshing ke tempat wisata Puncak Darajat, membuat pikiranku berselancar ke masa 28 tahun yang lalu saat berkunjung ke rumah salah seorang sahabatku sewaktu sekolah. Saat itu tanpa rencana, tiba-tiba ada seseorang yang sudah kuanggap kakak memintaku untuk mengantarnya ke rumah sahabatku itu. Sebut saja namanya Deni, dan aku memanggilnya dengan sebutan Kang Deni. Dengan perasaan heran aku bertanya ada kepentingan apa dia mengajakku berkunjung ke sana. Kang Deni tak menjawabku dengan lisan, tapi dia memberikan selembar kertas untuk kubaca. Dalam kertas yang ternyata balasan surat cinta itu terlihat tulisan sahabatku yang mengatakan,”Dalam kertas ini serba terbatas, lebih baik datang saja ke rumahku.” Begitu bunyi surat yang kubaca.
Usai membaca surat itu, aku tersenyum lucu. Kulipat kembali surat itu dan kuberikan pada kang Deni. Nampak dia tak sabar menunggu reaksiku.
“Bagaimana, Sit ? Kamu bersedia kan mengantarku ke rumah Ola?” katanya penuh harap.
“Insyaallah Kang, tapi aku tak tahu di mana rumahnya,” jawabku memberi alasan.
“Kan ini ada alamatnya di amplop. Katanya kalau kita sudah sampai daerah Samarang tinggal nanyain nama Bapak Amilin saja,” Kang Deni berusaha meyakinkanku.
“Iya deh, aku bersedia,” jawabku menyanggupi.
Esok harinya aku berangkat bersama kang Deni dengan menggunakan bis. Aku lihat dia begitu bersemangat dan penuh rasa optimis. Di sepanjang perjalanan dia bercerita tentang banyak hal hingga tak terasa bis yang kami tumpangi telah tiba di terminal Guntur. Aku dan kang Deni turun dari bis selanjutnya naik angkot menuju daerah Samarang. Sebelum naik, aku bertanya dulu pada pak supir tentang alamat yang akan dituju. Kuberikan secarik kertas yang berisi alamat sahabatku, Ola. Kami minta bantuan pak supir  untuk menurunkan kami di alamat yang tertera di kertas itu.
Singkat cerita, kami tiba di tempat tujuan yaitu rumah kedua orang tua Ola. Kedatangan kami disambut hangat oleh Ola dan kedua orangtuanya. Setelah berbasa-basi sebentar, orang tua Ola pergi ke dapur dan membiarkan kami bertiga di ruang tamu. Saat itu baik kang Deni maupun Ola terlihat agak canggung. Mereka lebih banyak diam. Sementara aku tampil menjadi seorang yang cerewet dengan tujuan untuk mencairkan suasana bisu mereka. Aku merasa heran dengan kang Deni yang setelah hampir satu jam berlalu tak juga menyampaikan maksud kedatangannya. Sampai akhirnya kuputuskan untuk kembali pulang ke Bandung. Kang Deni menuruti ajakanku. Kami pun berpamitan pulang pada Ola dan kedua orangtuanya. Ola mengantar kami sampai di pintu pagar rumah. Aku dan kang Deni berlalu meninggalkan Ola dan berjalan menuju jalan raya.
Saat berjalan menuju jalan raya itulah, hatiku bertanya-tanya apa sebenarnya maksud Kang Deni datang ke rumah Ola, dan apa maksud Ola menyuruh Kang Deni untuk datang ke rumahnya. Iiiiih….aku merasa gereget dibuatnya. Hingga kuputuskan untuk balik kanan dan kembali mendekat ke arah Ola yang masih berdiri di pintu pagar. Ola nampak terkejut.
“Ola, gimana nih? Kang Deni tuh diterima gak?” tanyaku spontan.
Ola tak menjawab. Dia hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya sebagai tanda bahadia menerima cinta kang Deni.
Oooooohhh..tak dapat dilukiskan dengan kata-kata bagaimana bahagianya hati Kang Deni saat itu. Di sepanjang perjalanan dari Garut menuju Bandung, dia begitu berapi-api bercerita tentang harapan-harapan ke depannya bersama Ola. Saat itu aku hanya menanggapinya dengan tersenyum. Tentu saja senyum kebahagiaan karena telah bisa membantu mewujudkan cinta dan cita dua orang sahabatku hingga akhirnya mereka bersatu di pelaminan.
Satu hal yang sangat kusyukuri bahwa sampai saat ini Kang Deni dan Ola masih tetap bersahabat denganku. Bahkan kami sudah seperti saudara sendiri. Kami sering berkunjung satu sama lain. Pribadi Ola yang ramah dan rendah hati sangat selaras dengan pribadi Kang Deni yang dewasa dan tak banyak bicara. Kini mereka hidup bahagia dengan dua orang putera dan satu orang putri yang soleh dan solehah. Alhamdulillah…***


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerbung: Sengsara Membawa Nikmat (2)

Sengsara Membawa Nikmat (2) Oleh: Tika Ihwatika Puji syukur aku bisa menyelesaikan sekolah keguruanku sampai tamat. Tak kan kuceritakan suka dukanya menjalani kehidupan selama tiga tahun itu. Yang jelas banyak sekali hikmah yang kudapat selama bekerja di toko. Selain bisa sekolah, aku juga jadi punya keterampilan bisa menyetir mobil. Ya.. atas kebaikan majikan, aku diberi ijin untuk  belajar mengemudi secara mandiri menggunakan mobil miliknya. Beruntung sekali aku bisa mendapatkan bos sebaik dia. Oh ya.. setelah lulus sekolah, aku tak langsung pulang kampung. Aku tetap bekerja di toko. Namun setelah bisa menyetir mobil, aku dipercaya untuk mengantar jemput anaknya ke sekolah. Selain itu aku diminta untuk membimbing dan memberi les anaknya pada malam hari. Jadi aku tak lagi disibukkan dengan tugas berat di toko. Alhamdulillah aku  bersyukur sekali dengan kondisi ini. Aku semakin percaya bahwa dengan ilmu derajat kita akan meningkat. Bapak, ibu, Kak Doni, kak Ela dan kedua ka...

Cerbung: Sengsara Membawa Nikmat (3)

Sengsara Membawa Nikmat (3) Oleh : Tika Ihwatika Resmilah sudah kami pacaran. Setiap Sabtu sore aku selalu menunggunya pulang dari asrama dan mengantarkannya sampai di ujung gang menuju rumahnya. Hanya sebatas itulah pacaran kami, bertemu satu minggu sekali jika dia pulang dari asrama. Aku belum berani berkunjung ke rumahnya karena takut kalau orang tuanya tak setuju dengan hubunganku. Lagi pula dia belum pernah mengajakku main ke rumahnya. Hingga suatu hari aku memberanikan diri meminta ijin untuk main ke rumahnya di hari Minggu. Dia tak keberatan, bahkan dengan senang hati mempersilakanku untuk mengunjunginya. Aku tanyakan apakah orang tuanya takkan marah jika aku main ke rumahnya? Dia menjawab agar dicoba dulu, nanti lihat bagaimana sikapnya. Dia juga mengatakan kalau ayahnya sudah sakit-sakitan. Sementara ibu kandungnya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Sekarang dia punya ibu tiri yang berprofesi sebagai guru. Mendengar ceritanya itu, aku jadi semakin sayang padanya, dan ...

Cerbung: Sengsara Membawa Nikmat (1)

Sengsara Membawa Nikmat (1) Oleh: Tika Ihwatika Tak pernah kubayangkan akan menjadi seorang guru dengan status PNS, mengingat aku hanyalah seorang pemuda yang miskin. Aku juga tak menyangka akan memiliki jodoh seorang bidan yang juga berstatus PNS. Semua berjalan tanpa kurencanakan. Namun aku mensyukuri semuanya sebagai takdir baik yang Allah berikan untukku. Alhamdulillah*** Terlahir sebagai bungsu dari 4 bersaudara, aku harus puas bersekolah hingga SMP saja. Saat itu ayah dan ibu sudah renta dan tak sanggup lagi membiayai sekolahku. Aku diminta untuk tidak melanjutkan ke tingkat SMA. Hal ini membuat hatiku sedih dan kecewa. Ada perasaan iri pada kak Doni kakak sulungku yang bisa melanjutkan sekolahnya hingga ke tingkat SMA, bahkan saat itu kak Doni sudah bekerja sebagai guru PNS di kota Garut. Sementara aku dan kedua kakakku yang lain tak mendapatkan kesempatan yang sama. Namun kecewaku tak berlangsung lama. Setelah ijazah SMP kuterima, kak Doni mengirim surat yang isinya menyuru...