Langsung ke konten utama

Postingan

Cerbung: Sengsara Membawa Nikmat (3)

Sengsara Membawa Nikmat (3) Oleh : Tika Ihwatika Resmilah sudah kami pacaran. Setiap Sabtu sore aku selalu menunggunya pulang dari asrama dan mengantarkannya sampai di ujung gang menuju rumahnya. Hanya sebatas itulah pacaran kami, bertemu satu minggu sekali jika dia pulang dari asrama. Aku belum berani berkunjung ke rumahnya karena takut kalau orang tuanya tak setuju dengan hubunganku. Lagi pula dia belum pernah mengajakku main ke rumahnya. Hingga suatu hari aku memberanikan diri meminta ijin untuk main ke rumahnya di hari Minggu. Dia tak keberatan, bahkan dengan senang hati mempersilakanku untuk mengunjunginya. Aku tanyakan apakah orang tuanya takkan marah jika aku main ke rumahnya? Dia menjawab agar dicoba dulu, nanti lihat bagaimana sikapnya. Dia juga mengatakan kalau ayahnya sudah sakit-sakitan. Sementara ibu kandungnya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Sekarang dia punya ibu tiri yang berprofesi sebagai guru. Mendengar ceritanya itu, aku jadi semakin sayang padanya, dan ...

Cerbung: Sengsara Membawa Nikmat (2)

Sengsara Membawa Nikmat (2) Oleh: Tika Ihwatika Puji syukur aku bisa menyelesaikan sekolah keguruanku sampai tamat. Tak kan kuceritakan suka dukanya menjalani kehidupan selama tiga tahun itu. Yang jelas banyak sekali hikmah yang kudapat selama bekerja di toko. Selain bisa sekolah, aku juga jadi punya keterampilan bisa menyetir mobil. Ya.. atas kebaikan majikan, aku diberi ijin untuk  belajar mengemudi secara mandiri menggunakan mobil miliknya. Beruntung sekali aku bisa mendapatkan bos sebaik dia. Oh ya.. setelah lulus sekolah, aku tak langsung pulang kampung. Aku tetap bekerja di toko. Namun setelah bisa menyetir mobil, aku dipercaya untuk mengantar jemput anaknya ke sekolah. Selain itu aku diminta untuk membimbing dan memberi les anaknya pada malam hari. Jadi aku tak lagi disibukkan dengan tugas berat di toko. Alhamdulillah aku  bersyukur sekali dengan kondisi ini. Aku semakin percaya bahwa dengan ilmu derajat kita akan meningkat. Bapak, ibu, Kak Doni, kak Ela dan kedua ka...

Cerbung: Sengsara Membawa Nikmat (1)

Sengsara Membawa Nikmat (1) Oleh: Tika Ihwatika Tak pernah kubayangkan akan menjadi seorang guru dengan status PNS, mengingat aku hanyalah seorang pemuda yang miskin. Aku juga tak menyangka akan memiliki jodoh seorang bidan yang juga berstatus PNS. Semua berjalan tanpa kurencanakan. Namun aku mensyukuri semuanya sebagai takdir baik yang Allah berikan untukku. Alhamdulillah*** Terlahir sebagai bungsu dari 4 bersaudara, aku harus puas bersekolah hingga SMP saja. Saat itu ayah dan ibu sudah renta dan tak sanggup lagi membiayai sekolahku. Aku diminta untuk tidak melanjutkan ke tingkat SMA. Hal ini membuat hatiku sedih dan kecewa. Ada perasaan iri pada kak Doni kakak sulungku yang bisa melanjutkan sekolahnya hingga ke tingkat SMA, bahkan saat itu kak Doni sudah bekerja sebagai guru PNS di kota Garut. Sementara aku dan kedua kakakku yang lain tak mendapatkan kesempatan yang sama. Namun kecewaku tak berlangsung lama. Setelah ijazah SMP kuterima, kak Doni mengirim surat yang isinya menyuru...

Kutemukan Cinta di Ibukota (Cerpen)

Kutemukan Cinta di Ibukota Oleh: Tika Ihwatika      sources : hipwee Tak pernah terpikir olehku untuk berada di ibukota dalam waktu yang lumayan lama. Apalagi dengan kondisi dan situasi hati yang tersakiti. Tanpa kedua orang tua dan orang-orang tersayang. Tapi aku mencoba bertahan dan sabar menjalani semuanya demi kebaikanku. Ya, aku terpaksa pergi untuk sekedar menenangkan diri atas sesuatu yang menimpaku. Sebuah penghianatan atas janji yang terpatri dari seorang lelaki.  Ah.. sudahlah aku tak mau membahasnya lagi. Kurelakan semua yang terjadi sebagai takdir terbaik dari Illahi. Kupasrahkan semuanya pada Sang Maha Bijaksana. "Ayo, kamu ke sini aja jangan terus bersedih. Kasihan mamamu setiap hari melihatmu mengurung diri di kamar. Kamu harus bangkit. Jangan biarkan mamamu sakit karena memikirkan masalahmu," demikian kata-kata bibi yang kudengar lewat telpon. Suaranya yang melengking dengan gaya bicaranya yang nyeroscos menambah pusing kepalaku....

Cerpen: Dia dalam Ingatanku

Dia dalam Ingatanku Oleh : Tika Ihwatika Sore ini aku berniat untuk tidak segera pulang ke rumah, meski sebenarnya dari kantor tempatku bekerja sudah bubaran. Sengaja kubelokkan honda varioku ke arah rumah kakakku di daerah Kiara Condong. Sore ini aku ingin bercerita tentang pertemuanku dengan seseorang yang dulu sangat aku dambakan kehadirannya. Dia yang semasa sekolah dulu sering kuledek karena sikapnya yang kekanak-kanakkan. Dia yang menurutku tak peka dengan apa yang kuperbuat. Dia yang bersikap “lurus” dan terkesan tak acuh dengan segala hal yang kulakukan. Ah dia… dia .. dan hanya dia yang ada dalam fikiranku saat ini. “ Assalamu`alaikum,” aku mengucapkan salam sambil masuk ke rumah kakakku. “Wa`alaikumussalam,” terdengar suara kakakku dari ruang tengah.“Eh,, kamu Zein, tumben kesini, ada apa?” “Main aja atuh Teh, emangnya gak boleh gitu?” jawabku sambil duduk di sofa ruang tengah. “Ya boleh atuuh ,, kamu kan adik Teteh,” katanya sambil menyodorkan tangannya meng...

Fikmin : Samarang dalam Kenangan

Samarang dalam Kenangan Oleh : Tika Ihwatika Menginjakkan kaki kembali di daerah Samarang Kabupaten Garut dalam rangka refreshing ke tempat wisata Puncak Darajat, membuat pikiranku berselancar ke masa 28 tahun yang lalu saat berkunjung ke rumah salah seorang sahabatku sewaktu sekolah. Saat itu tanpa rencana, tiba-tiba ada seseorang yang sudah kuanggap kakak memintaku untuk mengantarnya ke rumah sahabatku itu. Sebut saja namanya Deni, dan aku memanggilnya dengan sebutan Kang Deni. Dengan perasaan heran aku bertanya ada kepentingan apa dia mengajakku berkunjung ke sana. Kang Deni tak menjawabku dengan lisan, tapi dia memberikan selembar kertas untuk kubaca. Dalam kertas yang ternyata balasan surat cinta itu terlihat tulisan sahabatku yang mengatakan,”Dalam kertas ini serba terbatas, lebih baik datang saja ke rumahku.” Begitu bunyi surat yang kubaca. Usai membaca surat itu, aku tersenyum lucu. Kulipat kembali surat itu dan kuberikan pada kang Deni. Nampak dia tak sabar menunggu ...

Fikmin : Ayah Dalam Ingatanku

Ayah dalam Ingatanku Tak ada potonya di setumpuk albumku untuk kubuka dan kutatap kala kurindu. Sosoknya begitu lekat dalam ingatanku. Meski telah berpuluh tahun dia meninggalkanku untuk selama-lamanya. Ya.. dia ayahku yang dipanggil Tuhan pada saat usiaku baru menginjak 8 tahun. Perawakannya yang tinggi semampai dengan kulitnya yang sawo matang,masih tergambar jelas dalam benakku. Meski tak banyak, namun aku mampu menyimpan beberapa kenangan dengannya di memoriku. Aku masih ingat saat dia menggendongku di belakang punggungnya. Aku juga ingat saat dibawa naik ojek saat kami pulang dari pasar. Aku yang merupakan anak bungsu dari enam bersaudara sering kali diajak bepergian ke rumah saudara ayah di Bandung. Hal ini tentu saja membuat iri kakak-kakakku yang lain. Mereka bilang jika ayah telah pilih kasih terhadap mereka. Ah.. entahlah saat itu aku masih terlalu kecil untuk mengerti apa yang mereka maksud. Sampailah pada suatu waktu, dimana ayahku dirawat di rumah sakit. Entah bera...