Dia dalam Ingatanku
Oleh : Tika Ihwatika
Sore ini aku berniat
untuk tidak segera pulang ke rumah, meski sebenarnya dari kantor tempatku
bekerja sudah bubaran. Sengaja kubelokkan honda varioku ke arah rumah kakakku
di daerah Kiara Condong. Sore ini aku ingin bercerita tentang pertemuanku
dengan seseorang yang dulu sangat aku dambakan kehadirannya. Dia yang semasa
sekolah dulu sering kuledek karena sikapnya yang kekanak-kanakkan. Dia yang
menurutku tak peka dengan apa yang kuperbuat. Dia yang bersikap “lurus” dan
terkesan tak acuh dengan segala hal yang kulakukan. Ah dia… dia .. dan hanya
dia yang ada dalam fikiranku saat ini.
“ Assalamu`alaikum,”
aku mengucapkan salam sambil masuk ke rumah kakakku.
“Wa`alaikumussalam,” terdengar
suara kakakku dari ruang tengah.“Eh,, kamu Zein, tumben kesini, ada apa?”
“Main aja atuh Teh, emangnya gak boleh gitu?”
jawabku sambil duduk di sofa ruang tengah.
“Ya boleh atuuh,, kamu kan adik Teteh,” katanya
sambil menyodorkan tangannya mengajakku bersalaman.
Kakakku pun duduk
tepat di depanku. Kulihat dahinya agak berkerut menyiratkan wajah penuh
tanya. Dia memang kakak perempuanku yang
sangat dekat dan mengerti tentang aku. Sehingga aku merasa tak sungkan lagi
untuk bercerita tentang segala hal termasuk tentang kehidupan rumah tanggaku
yang tidak harmonis.
Tanpa basa basi
akupun bercerita padanya tentang seseorang yang bernama Sita. Dia adalah salah
seorang temanku waktu sekolah di SPG swasta di kota kembang berpuluh tahun yang lalu. Dengan penuh rasa
bahagia kuceritakan padanya jika kini aku terhubung lagi dengannya setelah
sekian puluh tahun berpisah.
“ Dulu aku sering
meledeknya Teh, hampir setiap hari,” begitu kataku.
“ Oh..padahal
sebenarnya kamu suka, begitu Zein ?” tanya kakakku.
“Iya Teh,, dan aku
sangat menyesal tak punya keberanian untuk mengungkapkan perasaan ini padanya,”
jawabku.
“ Emang kenapa sampai
kamu tak berani bilang”
“ Yaa,, itu tadi Teh,
dia itu orangnya “lurus”, kekanak-kanakkan dan jutek. Jadi aku sangat takut
kalau dia marah dan menolak cintaku,”
“ Yaaaa,, kalau
begitu sih salah kamu. Ibarat pepatah kamu itu kalah sebelum berperang,” begitu
tanggapan kakakku.
“ Di samping itu aku
juga takut ditolak karena akunya nakal, hehe…”
“Nah itu dia,, kenapa
kamu nakal. Padahal kalau kamu tidak nakal mungkin dia itu jodoh kamu,Terus
sekarang bagaimana?” kakakku kembali bertanya
“ Yaa mau dijalani
saja, soalnya dia itu obat bagi aku,” aku menjawab tanpa tedeng aling-aling.
“Heh.. emangnya dia
itu janda?”
“ Iya,, janda Teh,”
jawabku berbohong. Ya aku terpaksa berbohong karena takut dimarahi olehnya. Aku
tak mau siapapun menghalangi kebahagiaan hati yang kini sedang kurasakan. Aku
fikir ini masalah hati, tak seorang pun yang berhak merusaknya, orang tua
sekalipun.
Waktu beranjak
magrib. Usai menunaikan solat magrib, akupun pamit pulang pada kakakku.
“Awas, jaga perasaan
istrimu,” kata kakakku setengah bergumam. Dan aku membalasnya dengan tersenyum.
Akupun pergi menuju
rumah. Di sepanjang jalan, otak dan fikiranku hanya berisi tentang bayangan
wajah Sita, Sita dan Sita. Tiba di rumah kurebahkan diri di sofa dan anganku
kembali melayang mengenang perjumpaanku dengannya kemarin siang. Nyaris tak
percaya jika kemarin aku bisa bertatap muka dengannya. Dia yang dulu terkesan
cuek, polos, kekanak-kanakkan dan jutek itu telah menjelma menjadi wanita dewasa yang keibuan. Dia yang
kini telah menjadi seorang pendidik nampak begitu lugas dalam bercerita. Senyum
dan tawanya yang lepas menghapus kesan jutek yang dulu disandangnya. Dalam
pertemuanku itu, aku tak banyak bercerita. Aku lebih banyak diam. Lidahku
terasa kelu, kata-kataku hilang seketika karena seribu rasa yang berkecamuk
dalam dada.
“Eh Zein,, mulai
sekarang aku mau panggil kamu abang ya, bolehkan?” katanya sambil menatap
wajahku minta persetujuan.
“Ya,, boleh,” kataku
singkat.
“Asyiik,, berarti
sejak saat ini aku punya kakak laki-laki,, terima kasih ya abang,” katanya
nampak kegirangan.
“Sama-sama dik,”
kujawab dengan sedikit bercanda.
Mendengar dia
menganggapku sebagai seorang kakak dan memanggilku dengan sebutan abang, hatiku
sebetulnya berontak. Ingin sekali aku berteriak jika aku tak mau jadi abangnya.
Aku hanya mau jadi kekasihnya. Dan lebih jauh lagi aku mau jadi miliknya dan
memilikinya secara utuh. Fikiran egoisku berkata harusnya dia mengerti dengan perasaanku
dan merespon ungkapan cintaku yang terpendam dulu. Namun aku segera sadar jika
aku tak bisa memaksakan kehendak hati ini. Kondisi dan situasi dulu dan kini
sudah sangat jauh berbeda. Dia telah bahagia dengan keluarganya, aku pun
demikian meskipun sebenarnya ukuran bahagiaku adalah bisa hidup bersamanya.
Ach Sita..bayangannya
begitu lekat dalam ingatanku. Aku bahkan bisa mengingatnya secara detil apapun
yang dia lakukan dulu. Aku ingat bagaimana dia makan cireng sambil berjalan, sikapnya yang jutek dengan tatapan matanya
yang galak menjadi sesuatu yang melekat di hati. Gerak-gerik dan tingkah
lakunya yang lucu, polos dan kekanak-kanakan menjadi kenangan tersendiri yang
tak bisa terlupakan sampai kapanpun.***
Leuwisari,
5 Februari 2018
Komentar
Posting Komentar