Persahabatan dan
Cinta Monyet
Oleh : Tika
Ihwatika,S.Pd.SD
Berjalan menyusuri
gang menuju kampus tempatku menuntut ilmu adalah rutinitas keseharianku. Perlu
waktu kurang lebih lima menit saja untuk tiba di kampus tercinta ini. Aku yang
saat ini duduk di bangku semester 3 fakultas keguruan sebuah universitas swasta
di kota kelahiranku merasa beruntung mendapatkan tempat kos yang tak jauh dari
kampus. Di samping lebih hemat waktu dan hemat energi juga hemat biaya. Lumayan
bisa sedikit meringankan beban biaya orang tuaku dengan tidak perlu
mengeluarkan lagi ongkos gojek atau angkutan kota. Ya..sebagai anak sulung dari
tiga bersaudara aku harus mengerti keadaan ekonomi kedua orang tuaku yang saat
ini harus membiayai pendidikan kami dalam jumlah yang tidak sedikit.
Fakultas keguruan
menjadi pilihanku ketika ditanya oleh guru BK saat masih duduk di bangku SMA.
Padahal ibuku yang seorang guru pernah menyarankan agar aku masuk sekolah
kebidanan saja dengan harapan agar aku bisa menjadi seorang bidan. Tapi aku
menolaknya dengan alasan yang dibuat-buat. Entahlah keinginan menjadi seorang
guru itu muncul begitu saja dari dalam hati. Tanpa mempertimbangkan apakah
nantinya akan menjadi guru PNS atau tidak. Aku hanya berfikir jika suatu saat
nanti aku pasti bakal menjadi seorang ibu, dan aku pasti akan butuh sekali ilmu
pengetahuan untuk mendidik anak-anakku kelak. Cita-cita yang mungkin
terlalu dibuat-buat ya. Tapi itulah kenyataannya tanpa ba bi bu aku langsung
mendaftar ke fakultas pendidikan di universitas swasta ini. Dan tidak terasa kini aku sudah memasuki
tahun kedua di semester 3.
Pagi ini, seperti
biasa aku berjalan menyusuri gang kecil menuju kampus. Tiba di pintu gerbang
kampus dukkk… tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundakku. Aku terkejut dan
segera menoleh ke belakang.
“Eh Kak
Marni !!!” Sapa ku setelah tau siapa yang menepuk pundakku. "Apa kabar kak?" tambahku.
Kak Marni adalah kakak kelasku sewaktu di SMP dulu. Kami bersalaman dan berbincang sejenak di kantin yang kebetulan masih sepi.
Kak Marni bercerita jika dia sedang mengantar adiknya yang baru masuk di
universitas ini.
“Eh De masih ingat
gak sama Zulfi?” kak Marni bertanya sambil tersenyum.
“Zulfi?Emm.. Ingat kak, kenapa memangnya?" tanyaku balik.
"kalian masih saling komunikasi?" tanya kak Marni kembali
"ngga kak, dari perpisahan itu kita lost contact udah gak pernah ada komunikasi,” jawabku jujur.
“Wah masa?? Gak
terhubung di WA, IG atau FB?” Tanya kak Marni seolah tak percaya.
“hmm ngga kak” jawabku tersenyum.
“Kalau mau ini kakak
punya no WAnya,” kata kak Marni sambil memainkan androidnya mencari kontak
Zulfi.
“ Eh, gak usah kak, gapapa biarin aja gak punya WA Zulfi” kataku menolak tawaran kak Marni.
“ Bener nih gak mau?”
tanya Kak Marni sambil tersenyum menggodaku.
“ Iya bener kak,
titip salam aja kalau nanti kakak ketemu dia ya,” jawabku sambil terkekeh. “Oh
ya kak, aku masuk dulu yaa, ada kelas nih” kataku lagi
menutup perbincangan.
Aku masuk ke kelas
dan mengikuti perkuliahan seperti biasa. Namun kali ini ada yang beda dengan
hatiku. Aku jadi kurang konsentrasi mengikuti perkuliahan hari ini. hingga
pulang ke rumah kos, pikiranku melayang pada perbincangan dengan kak Marni
tentang Zulfi teman semasa SMP ku. Ya.. aku jadi teringat masa kecil kami saat
di kampung dulu. Ceritanya dimulai ketika kami masih duduk di kelas 5 SD. Saat
itu Zulfi sedang liburan panjang bersama saudaranya di kampung kami. Zulfi yang
anak orang kota itu tiba-tiba sering menggodaku. Dia sering kali datang ke perpustakaan desa untuk menggambar dan membaca komik anak-anak. Saat itu aku sering mengunjungi perpustakaan desa bersama
sahabatku Nina. Rupanya Nina diam-diam
menaruh perhatian pada Zulfi. Nina bilang jika dia suka sama Zulfi. Sementara saat itu, Zulfi mengusiliku dengan merebut buku yag aku baca atau mengganggu kegiatan menggambarku. Aku
tersenyum merasa lucu dengan kejadian itu. Bayangkan kami saat itu baru kelas 5
SD, tapi Nina sudah bilang suka sama Zulfi. Mungkin itu yang dinamakan cinta
monyetnya Nina.
Liburan panjang usai,
dan Zulfi pun kembali ke kota. Aku dan Nina pun kembali bersekolah dan duduk di
kelas 6 SD. Kami bersahabat sejak TK. Setiap kali ada waktu main Nina
seringkali bercerita tentang kesukaannya sama Zulfi. Dan sebagai sahabat aku
hanya mendengarkannya dengan seksama dan menyimpan cerita Nina menjadi rahasia
berdua. Setahun berlalu, tibalah saatnya aku dan Nina menyelesaikan sekolah
dasarku dan meneruskannya ke tingkat SMP. Lagi-lagi kami memilih sekolah yang
sama yaitu di sebuah SMP swasta yang berada di kampungku. Siapa sangka jika
pada saat itu, Zulfi pun rupanya memilih untuk bersekolah di kampung dan
mendaftar di sekolah yang sama dengan kami. Dia tinggal bersama nenek dan
pamannya. Aku dan Nina sempat merasa tak percaya jika Zulfi sekolah di kampung
kami yang jauh dari keramaian kota. Zulfi yang seorang anak dari seorang
pengusaha kaya memilih sekolah yang ada di kampung. Namun itulah kenyataannya
Zulfi benar-benar menjadi teman sekelas kami. Aku lihat Nina begitu senang bisa
sekelas dengan Zulfi. Dia semakin sering bercerita tentang Zulfi. Sepertinya
tiada hari tanpa membicarakan Zulfi. Dan seperti biasa aku hanya jadi pendengar
setianya dan menyimpan semuanya menjadi rahasia berdua.
Adalah kak Marni yang
merupakan sepupunya Zulfi, dia adalah kakak kelas kami yang duduk di kelas IX.
Dia mendekatiku dan menyampaikan salam dari Zulfi buatku. Aku
terbelalak tak percaya. Satu kali, dua kali, tiga kali salam dari Zulfi yang
disampaikan Kak Marni tak kurespon. Di kelas Zulfi juga sering kali menatapku,
dia sering menghalangiku saat aku mau ke luar kelas atau menggodaku saat
istirahat. Kak Marni bilang jika Zulfi suka padaku dan berharap agar aku bisa
menerimanya. Aku merasa serba salah. Di satu sisi aku tak bisa bohong jika hati
inipun mulai suka padanya, tapi di sisi lain aku juga tak tega menyakiti hati
sahabatku Nina yang sudah terang-terangan mencintai Zulfi. Akhirnya demi
persahabatanku dengan Nina, tak pernah sekalipun kugubris salam-salam dari
Zulfi yang disampaikan lewat Kak Mirna. Hingga tak terasa tiga tahun
kebersamaan di SMP kulalui tanpa keputusan. Kubiarkan Zulfi dengan
harapan-harapan dan kekecewaannya terhadap sikapku.
Acara perpisahan
kelas IX pun digelar. Kami sibuk memilih sekolah lanjutan sesuai keinginan.
Kali ini aku dan Nina berpisah memilih SMA yang berbeda. Begitupun Zulfi, dia
kembali ke kota dan melanjutkan sekolahnya disana.
Sejak saat itu tak lagi kudengar canda tawanya. Hingga sekarang saat kami berubah status menjadi mahasiswa, tak
pernah kudapatkan nomor kontaknya. Aku hanya mendengar kabar sekilas jika kini
dia kuliah sambil mengelola salah satu bisnis milik orang tuanya di kota. Bahkan saat tadi bertemu dengan kak Marni aku hanya kuasa
menitipkan salam saja buatnya tanpa menceritakan bagaimana isi hatiku
sebenarnya. Akupun menolak tawaran Kak Marni untuk menyimpan nomor WA Zulfi
karena merasa Zulfi yang sekarang bukan lagi Zulfi yang dulu. Aku merasa malu
dan bersalah karena dulu telah mengecewakannya. Biarlah rasa cinta monyet kami
menjadi pelangi yang mewarnai perjalanan hidup yang masih panjang. Semoga suatu
saat nanti kami bisa dipertemukan lagi dalam kondisi yang semakin dewasa,
menggenggam kesuksesan sesuai yang dicita-citakan. Aamiin…

Mencintai tak harus memiliki
BalasHapusBiarlah kusimpan perasaan itu di palung hati yg tersembunyi
Yaa..pada akhirnya hanya ungkapan seperti itulah yg mampu meredam rasa karena takdir Tuhan lebih kuasa..
BalasHapusTerima kasih Sudah mampir di blogku