Langsung ke konten utama

Cerpen : Kupanggil Dirinya Abang


Kupanggil Dirinya Abang
Oleh :  Tika Ihwatika

Terhubung kembali dengannya setelah berpuluh tahun perpisahan kami, menjadi sesuatu yang sangat kusyukuri. Betapa tidak persahabatan kami pada masa sekolah terjalin begitu akrab dan teramat dekat. Sifatnya yang ceplas ceplos dengan celotehan yang terkadang konyol mampu membuat seisi kelas tertawa, tak terkecuali aku. Aku bahkan seringkali menjadi bahan ledekannya.
Ya..saat itu di antara teman-teman sekelas mungkin hanya akulah perempuan yang paling sering mendapat buliannya. Nyaris setiap hari ada saja bahan ledekan yang dilontarkannya padaku. Aku yang pada saat itu masih begitu polos hanya mampu berteriak-teriak sambil sesekali berlari layaknya anak kecil.
Melihat tingkahku yang seperti itu, tak jarang dia menegurku untuk bersikap lebih dewasa dan tidak bersikap seperti bocah usia SD. Tapi anehnya meski hampir setiap hari dia ledek, aku tak pernah membencinya. Bahkan aku merasa senang. Karena ledekannya tak jarang membuatku tertawa bahagia. Aku yang saat itu tinggal dalam naungan kasih sayang orang, benar-benar merasa terhibur dengan berbagai tingah lakunya. Hingga aku merasa bersemangat untuk bersekolah setiap hari.
Yach.. masa itu memang masa indah untuk dikenang. Kekonyolannya, ledekan dan semua candaannya dulu begitu lekat dalam benakku. Dia menjadi salah satu teman teristimewaku. Kini, setelah hampir setahun kami terhubung melalui medsos, kembali kudengar gurauannya. Meski belum sempat bertemu muka, tapi kami merasa sangat dekat. Sifat konyolnya masih tetap ada. Aku seringkali dibuat terpingkal-pingkal dengan celotehannya di telpon. Hingga sampailah pada suatu hari. Secara tiba-tiba aku dikejutkan dengan pernyataannya yang di luar dugaanku. Dia mengatakan bahwa sebenarnya dulu pada saat sekolah, dia menyimpan harapannya padaku. Berbagai ledekan dan celotehannya dulu adalah salah satu upaya untuk menarik perhatianku. Namun aku tidak peka, begitu katanya.
Aku kaget bukan kepalang, merasa tak percaya denga apa yang dia katakan. Tapi dia menyakinkan bahwa semua itu benar adanya. Ach.. lagi-lagi aku tertawa lebar merasa lucu dengan apa yang dia ucapkan. Dalam kekagetan dan kelucuanku aku hanya bisa mengucapkan terima kasih atas perhatian dan ledekannya dulu. Karena bagaimanapun juga ledekan dan gurauannya dulu telah mampu membuatku merasa terhibur dan tertawa gembira. 
Dia sempat menyatakan penyesalannya mengapa dulu tak punya keberanian untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya dia rasa. Namun segera aku jawab bahwa semua yang terjadi adalah takdir terbaik dari Tuhan. Skenarionya sudah dibuat oleh Sang Maha Pengatur kehidupan. Kita manusia hanya bisa punya keinginan, selanjutnya Allah yang menentukan. Aku katakan pula jika aku merasa bersyukur dia tak sempat mengutarakan perasaannya dulu, karena jika sampai hal itu terungkap mungkin hubungan kami tak bisa sedekat ini.
Aku mensyukurinya karena kini kami bisa menjadi saudara. Kami membuat kesepakatan untuk selanjutnya melanjutkan silaturahmi ini ke dalam  hubungan saudara.Keluarga kecilku dan keluarga kecilnya kubawa serta menjadi bagian dalam perjalanan hidup kami sekarang. Dan ini semua kurenungi sebagai bagian dari hikmah kehidupan. Bahwa mencintai tak berarti harus memiliki. Persahabatan dan persaudaraan jauh lebih indah dari sekedar mencintai. Itulah makanya kupanggil dia abang.
Leuwisari,  Oktober 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerbung: Sengsara Membawa Nikmat (2)

Sengsara Membawa Nikmat (2) Oleh: Tika Ihwatika Puji syukur aku bisa menyelesaikan sekolah keguruanku sampai tamat. Tak kan kuceritakan suka dukanya menjalani kehidupan selama tiga tahun itu. Yang jelas banyak sekali hikmah yang kudapat selama bekerja di toko. Selain bisa sekolah, aku juga jadi punya keterampilan bisa menyetir mobil. Ya.. atas kebaikan majikan, aku diberi ijin untuk  belajar mengemudi secara mandiri menggunakan mobil miliknya. Beruntung sekali aku bisa mendapatkan bos sebaik dia. Oh ya.. setelah lulus sekolah, aku tak langsung pulang kampung. Aku tetap bekerja di toko. Namun setelah bisa menyetir mobil, aku dipercaya untuk mengantar jemput anaknya ke sekolah. Selain itu aku diminta untuk membimbing dan memberi les anaknya pada malam hari. Jadi aku tak lagi disibukkan dengan tugas berat di toko. Alhamdulillah aku  bersyukur sekali dengan kondisi ini. Aku semakin percaya bahwa dengan ilmu derajat kita akan meningkat. Bapak, ibu, Kak Doni, kak Ela dan kedua ka...

Cerbung: Sengsara Membawa Nikmat (3)

Sengsara Membawa Nikmat (3) Oleh : Tika Ihwatika Resmilah sudah kami pacaran. Setiap Sabtu sore aku selalu menunggunya pulang dari asrama dan mengantarkannya sampai di ujung gang menuju rumahnya. Hanya sebatas itulah pacaran kami, bertemu satu minggu sekali jika dia pulang dari asrama. Aku belum berani berkunjung ke rumahnya karena takut kalau orang tuanya tak setuju dengan hubunganku. Lagi pula dia belum pernah mengajakku main ke rumahnya. Hingga suatu hari aku memberanikan diri meminta ijin untuk main ke rumahnya di hari Minggu. Dia tak keberatan, bahkan dengan senang hati mempersilakanku untuk mengunjunginya. Aku tanyakan apakah orang tuanya takkan marah jika aku main ke rumahnya? Dia menjawab agar dicoba dulu, nanti lihat bagaimana sikapnya. Dia juga mengatakan kalau ayahnya sudah sakit-sakitan. Sementara ibu kandungnya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Sekarang dia punya ibu tiri yang berprofesi sebagai guru. Mendengar ceritanya itu, aku jadi semakin sayang padanya, dan ...

Cerbung: Sengsara Membawa Nikmat (1)

Sengsara Membawa Nikmat (1) Oleh: Tika Ihwatika Tak pernah kubayangkan akan menjadi seorang guru dengan status PNS, mengingat aku hanyalah seorang pemuda yang miskin. Aku juga tak menyangka akan memiliki jodoh seorang bidan yang juga berstatus PNS. Semua berjalan tanpa kurencanakan. Namun aku mensyukuri semuanya sebagai takdir baik yang Allah berikan untukku. Alhamdulillah*** Terlahir sebagai bungsu dari 4 bersaudara, aku harus puas bersekolah hingga SMP saja. Saat itu ayah dan ibu sudah renta dan tak sanggup lagi membiayai sekolahku. Aku diminta untuk tidak melanjutkan ke tingkat SMA. Hal ini membuat hatiku sedih dan kecewa. Ada perasaan iri pada kak Doni kakak sulungku yang bisa melanjutkan sekolahnya hingga ke tingkat SMA, bahkan saat itu kak Doni sudah bekerja sebagai guru PNS di kota Garut. Sementara aku dan kedua kakakku yang lain tak mendapatkan kesempatan yang sama. Namun kecewaku tak berlangsung lama. Setelah ijazah SMP kuterima, kak Doni mengirim surat yang isinya menyuru...