Anugerah
Oleh : Tika
Ihwatika,S.Pd.SD
Berhasil
menjadi juara mungkin merupakan impian banyak orang, tak terkecuali denganku.
Berawal dari adanya surat tugas dari kepala sekolah yang menginstruksikan aku
untuk mengikuti lomba guru berprestasi mewakili sekolah di tingkat kecamatan.
Meski pada awalnya aku menolak karena pernah mengikuti lomba sejenis pada tahun
sebelumnya, namun karena para guru yang lain tak ada yang bersedia akhirnya mau
tak mau aku menerima tugas itu. Dengan berniat melaksanakan tugas, pada awal
bulan April 2017 akupun mengikuti seleksi guru berprestasi di tingkat kecamatan
bersama 18 orang lainnya yang merupakan utusan dari setiap sekolah dasar yang
berada di bawah UPT wilayah Kecamatan tempatku bertugas. Seleksi guru
berprestasi di tingkat kecamatan ini terdiri atas tes tertulis sebanyak 60
butir soal dan tes praktik berupa pembuatan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
(RPP) lengkap dengan silabusnya serta materi pelajaran yang telah ditetapkan
oleh panitia. Setelah melalui rangkaian
tes tertulis, tes praktik dan wawancara serta visitasi ke sekolah tempat tugas,
alhamdulillan aku dinobatkan menjadi juara pertamanya dan berhak maju mewakili
tingkat kecamatan pada ajang lomba guru berprestasi di tingkat kabupaten. Dan
ini merupakan pengalamanku yang kedua setelah pada tahun sebelumnya menjadi
utusan kecamatan mengikuti lomba guru berprestasi di tingkat kabupaten.
Menjelang
pelaksanaan lomba di kabupaten, aku mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya.
Mulai dari melengkapi dokumen portofolio dan melengkapi persayaratan
administrasi yang lainnya. Tak lupa akupun mulai membaca beberapa buah buku
sebagai bekal pengetahuan dalam upaya mengisi tes tertulis. Aku juga melakukan browsing di internet
mencari beberapa contoh soal guru berprestasi untuk kujadikan acuan. Lumayan
agak capek juga persiapan yang kulakukan ini, namun demi tugas Negara aku
ikhlas mengerjakannya.
Seleksi
di tingkat kabupaten pun digelar pada akhir bulan April 2017 dengan jumlah peserta guru SD sebanyak 42
orang yang merupakan utusan dari 39 kecamatan. Seleksi di tingkat kabupaten dilakukan
melalui tiga tahap yaitu tes tertulis dan portofolio, tes wawancara dan
presentasi laporan PTK serta visitasi ke tempat tugas. Dari tes tertulis dan
portofolio yng dilakukan pada hari pertama diambil 10 besar nilai tertinggi
yang kemudian kesepuluh nominasi ini harus mengikuti seleksi tahap kedua yaitu
tes wawancara dan best practice berupa presentasi laporan Penelitian Tindakan
Kelas (PTK) pada hari kedua. Tak terbersit sedikitpun di benakku untuk masuk
nominasi 10 besar apalagi untuk menjadi juara mengingat para guru peserta wakil
dari kecamatan lainpun begitu mumpuni. Mereka merupakan orang-orang pilihan
dari kecamatannya. Aku hanya berusaha melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya
sekemampuanku supaya hasilnya tak terlalu memalukan kecamatanku.
Namun
di luar dugaan pada siang hari setelah mengikuti tes tertulis pada hari
pertama, aku mendapat kabar bahwa aku masuk nominasi 10 besar terbaik. Sungguh
merupakan kabar gembira bagiku. Aku bersujud sebagai tanda rasa syukurku pada
Allah Sang Maha Segala. Skenario-Nya memang lebih indah. Aku yang hanya
bertekad untuk tidak membuat malu nama kecamatan, ternyata mampu mancapai hasil
lebih dari yang diharapkan.
Selanjutnya
akupun bersiap untuk mengikuti tes wawancara dan best practice pada hari kedua.
Kupelajari kembali laporan PTK yang telah kubuat, kupersiapkan pula powerpointnya sebagai bahan presentasiku
nanti. Aku yang dapat peringkat kedua pada sepuluh besar itu merupakan peserta
pertama yang melakukan test presentasi. Naas menimpaku saat itu, laptop
kepunyaanku tak bisa connect ke layar monitor. Tak dapat dibayangkan betapa
gugupnya aku saat itu. Beruntung Bapak Pengawas yang bertindak selaku juri
mempersilakanku untuk menggunakan laptop salah seorang peserta. Namun saking
gugupnya, power point yang telah kupersiapkan tak sempat kupindahkan ke
flasdisk. Dan akhirnya aku mempresentasikan laporan PTK ku secara manual saja.
Usai
presentasi laporan PTK aku bergegas menuju ruang tes wawancara. Beberapa saat
aku menunggu giliran. Selama menunggu giliran akupun berbincang dengan peserta
lain, berbagi cerita dan pengalaman hingga akhirnya kami merasa akrab seolah
sudah berteman lama. Tibalah giliranku untuk diwawancara. Meskipun sedikit agak
tegang, namun aku berusaha untuk bersikap tenang. Beberapa pertanyaan yang
diajukan tim juri kucoba dijawab dengan sebaik-baiknya. Beberapa pernyataan juripun berusaha untuk dikomentari
dengan argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Alhamdulillah tes
wawancara pun usai. Panitia mengumumkan jika hasil tes hari kedua akan
diumumkan kemudian melalui sms atau WA. Akhirnya aku dan nominasi lainnya membubarkan
diri dan pulang ke kampung masing-masing.
Tak
lama menunggu, keesokan harinya keputusan juri dalam menetapkan nominasi 3
terbaik guru berprestasi sudah tersebar melalui pesan WA. Dan alhamdulillah aku
kembali termasuk ke dalam tiga besar itu dengan posisi peringkat ketiga. Akupun
kembali bersiap untuk penilaian berikutnya yaitu visitasi ke sekolah tempatku
bertugas. Hari yang dinanti pun tiba. Pada hari Sabtu, tim juri yang diwakili
oleh bapak pengawas dan Kasie Kurikulum Dikdas kabupaten datang melakukan
visitasi ke sekolah. Aku diminta untuk melakukan praktik mengajar dan
menyiapkan berbagai administrasi kelas yang sebagai bukti fisik yang harus
dibuat oleh guru sebelum melakukan pembelajaran. Aku berupaya melakukan
semuanya sekemampuanku, hingga akhirnya mereka pulang.
Seminggu
setelah kunjungan ke sekolah aku mendapat undangan untuk menghadiri malam
anugerah pendidikan tahun 2017. Bersama surat undangan itu disertakan pula
daftar kejuaraan PTK berprestasi tingkat kabupaten. Aku berada di peringkat
ketiga untuk guru berprestasi. Ucapan selamat dari beberapa orang teman dan
para sahabat terus mengalir baik melalui sms, FB, BBM maupun WA. Mereka turut
berbahagia atas keberhasilan yang kuraih. Alhamdulillah wasyukrillah, aku
bersujud pada Allah atas berkah yang kuterima ini.
Bertempat
di gedung Pendopo Lama di kota, aku hadir di acara malam anugerah itu. Sebagai
rasa syukur aku mengajak serta anakku yang kedua untuk ikut menyaksikanku
menerima tropi dan piagam. Aku ingin anakku bangga dan merasa terinspirasi
dengan apa yang telah kuraih. ****
Komentar
Posting Komentar