Berkumpul di Sentul
Oleh : Tika Ihwatika,S.Pd.SD
Puncak acara peringatan HUT PGRI ke-71 dan Hari Guru
Nasional (HGN) tahun 2016 yang dilaksanakan di Sentul International Convention
Centre (SICC) pada bulan Nopember lalu, menyisakan cerita tersendiri di hatiku.
Aku merasa senang dan bersyukur sekali bisa ikut serta menghadiri perhelatan
yang diselenggarakan satu tahun sekali ini. Sebagaimana kesepakatan pada saat
rapat, saya dan para guru pangurus PGRI cabang yang akan berangkat ke Sentul diminta
untuk berkumpul di alun-alun Singaparna pada pukul 7 malam. Lebih bagus lagi
jika datang sebelum pukul 7 dan melaksanakan sholat isya di masjid agung
Singaparna supaya tidak terlalu lama menunggu. Begitu kata ketua rombongan pada
saat rapat.
Hujan yang sejak subuh tak kunjung reda tidak
menyurutkan niatku untuk berangkat ke Sentul. Hati ini sudah bulat ingin
menyaksikan puncak upacara HUT PGRI yang ke-71. Biarlah orang mau berkata apa,
ini kan hajatnya para guru, jika bukan kami para guru yang menghadirinya, siapa
lagi?? Begitu fikirku. Tapi yang paling
utama sebetulnya adalah rasa ingin tahu seperti apa kawasan Sentul itu. Dalam
bayanganku selama ini Sentul itu adalah tempat balapan mobil seperti yang
sering kulihat di televisi.
Di bawah rintik air hujan aku berangkat ke Singaparna
diantar oleh keponakan. Tas yang berisi perlengkapan serta makanan kecil bekal
di perjalanan kumasukkan ke dalam kantong plastik besar untuk menghindari basah
akibat cipratan air hujan. Tak lupa helm dan jas hujan sudah segera dipakai untuk
menutupi wajahku agar tak kehujanan. Tiba di alun-alun Singaparna sudah nampak
beberapa bis terparkir di pinggir jalan raya. Akupun turun dari motor, lalu membuka helm dan
jas hujan yang kemudian kuberikan kepada keponakan untuk dibawa kembali ke rumah.
“Ini bis rombongan PGRI bukan, mang?” tanyaku pada
kondektur bis.
“Iya betul bu,” jawab kondektur. “Mari saya bantu bawa
tasnya,” kata kondektur sambil membawa barang bawaanku dan dimasukkannya ke
dalam bis.
“Koq belum pada datang,ya?” tanyaku setelah naik ke
dalam bis.
“Baru ada dua orang bu, tuh itu lagi pada beli bubur
kacang ijo dulu. ” kata kondektur sambil menunjuk ke arah tukang bubur kacang
ijo di seberang jalan.
Sambil menunggu yang lain, aku duduk di kursi bis.
Akupun menghubungi beberapa teman yang masih dalam perjalanan supaya sesegera
mungkin tiba di lokasi. Singkat cerita semua peserta rombongan sudah lengkap
dan kamipun bersiap melaju menembus udara dinginya malam menuju kota Sentul
Bogor.
Kira-kira pukul tiga pagi hari kami dan rombongan tiba
di daerah Sentul. Tempat yang lebih dulu kami tuju adalah Masjid Adzikra milik Ustadz Arifin Ilham seorang
ulama kondang yang sering tampil di televisi. Bis melaju menuju area parkir. Nampak di sepanjang jalan depan
masjid telah berjejer bis rombongan dari daerah lain. setelah bis terparkir
kami turun dan bergegas menuju area masjid yang tampak begitu luas dan megah. Kami menuju ke wc tempat wudlu. Di sini kami mendapati WC
dan tempat wudlu yang sudah penuh sesak oleh pengunjung yang sudah lebih dulu
datang. Mereka kebanyakan mengenakkan baju seragam PGRI. Sepertinya mereka
adalah rombongan PGRI dari daerah lain yang sama-sama akan mengikuti puncak
perayaan Hari Guru Nasional di Sentul Convention Center. Alhamdulillah meskipun
harus antri, aku dan teman-taman masih bisa mandi, wudhu dan sholat subuh berjamaah
di Mesjid Adzikra dengan nyaman. Tak terhitung berapa ratus orang yang ikut
sholat berjamaah pada hari itu. Masjid yang demikian luasnya itu penuh oleh
para guru yang datang dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Kukatakan
mereka para guru karena hampir semua orang baik laki-laki maupun perempuan
mengenakan baju seragam PGRI. Aku merasa senang bisa datang ke masjid yang
megah milik ulama kondang yang terkenal di Indonesia. Meski tak sempat bertemu
KH Arifin Ilham sang pemilik masjid yang terkenal itu, namun aku bersyukur
masih bisa ikut melaksanakan sholat subuh berjamaah di masjid itu.
Usai melaksanakan sholat subuh, rombongan kembali ke
bis dan melaju ke tempat tujuan yaitu Sentul International Conventional Centre
(SICC). Sampai di lokasi parkir, nyaris tak ada tempat kosong semua sudah penuh
oleh bis rombongan dari daerah lain.
Kami berjalan menuju pintu masuk gedung tempat acara. Kami
kira semua rombongan akan bisa masuk seperti halnya perayaan tahun kemarin
waktu di GBK. Ternyata hanya 3 orang saja yang diperbolehkan masuk karena kapasitas tempat yang terbatas katanya.
Kami tak bisa berbuat apa-apa selain sabar dan menerima kenyataan. Di setiap
penjuru nampak begitu banyak orang yang bergerombol
dengan wajah kecewa, tak sedikit pula orang yang lalu lalang dan hilir mudik ke
sana kemari sambil menikmati pemandangan di sekitar lokasi.
Untuk menghilangkan rasa kecewa, aku dan teman-teman
akhirnya berjalan menyusuri area lokasi sambil sesekali jeprat jepret selfi.
Kudapati beberapa tenda besar yang sudah disiapkan panitia lengkap dengan layar
LED besar yang sengaja digelar untuk menyaksikan prosesi acara di dalam gedung.
Tak ketinggalan dipasang pula panggung dengan beberapa sajian hiburan dari
panitia dan para guru yang secara spontan tampil ikut memeriahkan acara. Tenda-tenda besar yang lengkap dengan
kursinya ini sudah penuh sesak diisi para guru yang sudah lebih dulu datang.
Aku dan teman hanya bisa duduk di bawah pohon perindang di pinggir tenda
sekedar melepas lelah setelah berjalan kaki sekian jauhnya.
Aku bergumam dalam hati,” Ya Allah, jika bukan karena
solidaritas organisasi PGRI tak mungkin rasanya orang bisa berkumpul sebanyak
ini. Padahal rata-rata yang datang itu hanya perwakilan dari tiap cabang. Andai
saja semua anggota PGRI diperbolehkan ikut mungkin tempat seluas SICC ini tak
akan mampu menampungnya.
Tepat jam sabelas siang acara utama dimulai. Aku dan
semua orang yang berkumpul di luar gedung hanya bisa menyaksikan acara di layar
LED. Agak berbeda dengan tahun 2015 kemarin, tahun 2016 ini acara puncak HUT
PGRI dihadiri oleh Bapak Presiden Jokowi beserta istrinyaa, juga Menteri
Pendidikan Bapak Prof. Muhajir effendi. Menurut
PLT Ketua umum PGRI dalam sambutannya
para guru yang hadir di dalam gedung SICC sekitar 17 ribu orang, yang di luar
gedung sekitar 15 ribu. Jika dijumlahkan semua yang hadir itu mencapai 32 ribu
guru yang berkumpul di Sentul. Masya Allah….
Komentar
Posting Komentar