Langsung ke konten utama

Cerpen : Aku di Antara Mereka


AKU DIANTARA MEREKA
Keaktifanku di sebuah organisasi sosial yang bergerak di bidang kemasyarakatan, keputrian dan keperempuanan telah membuatku mempunyai  banyak teman. Apalagi sejak aku terpilih menjadi salah seorang pimpinan ormas di tingkat kabupaten aku merasakan manfaat yang begitu banyak. Berbagai acara dan pertemuan di tingkat provinsipun aku hadiri, dan itu membuatku menjadi semakin banyak kawan dan kenalan dari setiap kota dan kabupaten yang ada di Jawa Barat. Aku memang senang berorganisasi. Bagiku organisasi merupakan salah satu tempat untuk mengaktualisasikan diri di masyarakat. Bagiku sekecil apapun peran yang kita mainkan harus dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Dari sekian banyak teman berorganisasi ada beberapa orang yang pada akhirnya menjadi seseorang yang begitu dekat denganku. Salah satunya adalah Nur. Dia seorang guru di salah satu SMA swasta di kotaku dengan status PNS. Selain itu dia seorang ibu rumah tangga dengan 2 anak. Usianya terpaut 10 tahun lebih muda dariku. Dia jadi begitu dekat denganku karena posisinya sebagai sekretaris organisasi dan aku ketuanya. Di banyak kesempatan kami sering pergi dan menghadiri berbagai acara dan undangan, baik undangan dari organisasi lain ataupun berbagai undangan dari pemerintahan. Suaminya pun sangat mendukung kegiatan kami. Tak jarang beliau sendiri yang suka mengantar kami ke beberapa acara dengan mobilnya.  Aku sangat bangga dengan sosok Nur. Selain wajahnya yang cantik, dia pun seorang guru yang cerdas, istri yang baik bagi suaminya dan tentu saja seorang ibu yang baik bagi putra-putrinya. Di mataku dia adalah sosok perempuan yang ideal. Di tengah kesibukannya sebagai guru dan mahasiswa S2, dia juga seorang aktivis organisasi yang loyal dan berdedikasi. Sebagai sekretaris organisasi dia begitu cekatan dalam setiap tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Tak salah rasanya jika aku menyiapkan dia menjadi penggantiku di posisi ketua. Pembawaannya yang kalem dan tak banyak bicara membuatku nyaman dalam menjalankan roda organisasi. Dari kedekatan organisasi itu akupun menjadi tak sungkan untuk bercerita dan curhat tentang kehidupan pribadiku dari mulai kelakuanku yang baik-baik hingga kelakuan terburukku. Aku begitu percaya padanya meski usianya lebih muda dariku. Aku berharap usai bercerita itu dia bisa memberiku saran, masukan dan koreksi atas semua kelakuan-kelakuanku. Oh ya.. secara kebetulan putranya yang pertama adalah salah satu muridku di sekolah tempatku mengajar. Jadi terasa lengketlah kebersamaan kami ini.
Selain Nur, ada lagi dua orang  yang dekat denganku namanya Mus dan Sar. Mereka berdua adalah guru di sebuah Madrasah Ibtidaiyah. Meski tak selengket dengan Nur, tapi keberadaan mereka amat sangat berharga bagiku. Mus yang dalam organisasi memegang posisi bendahara adalah sosok perempuan muda yang baik hati, sholehah, dan apa adanya. Sifatnya yang agak pendiam dan pemalu terkadang membuatku ingin selalu menggodanya. Kulitnya yang putih bersih dengan kepribadiannya yang anggun telah mengantarkannya menjadi seorang istri yang setia bagi suami tercintanya. Namun sayang di sekian lama pernikahannya Mus belum dikaruniai anak, dan itu membuat hatiku agak prihatin dan kasihan padanya. Mudah-mudahan Allah segera mengaruniakan anak pada mereka.
Sar, jabatannya dalam organisasi adalah sebagai wakil sekretaris. Kepribadiannya yang suka humor menjadikan suasana kebersamaan kami selalu hangat dan penuh gelak tawa. Sepi rasanya jika pada saat pertemuan tak dihadiri olehnya. Dia adalah salah satu penyemangatku dalam memimpin organisasi. Meski usianya ada 5 tahun di atasku, tapi dia selalu menghargaiku sebagai pimpinannya. Belum lagi suaminya yang selalu setia mengantar dan menjemputnya setiap ada pertemuan dan rapat organisasi. Aku benar-benar salut dan berterima kasih sekali pada Sar dan suaminya. Aku sangat bersyukur mendapatkan rekan berorganisasi yang loyal seperti dia.
Selain Nur, Mus dan Sar sebenarnya masih banyak beberapa rekan yang dekat denganku dan selalu memberikan dukungan. Mereka adalah Ning, Haji, dan Ita. Mereka adalah perempuan-perempuan hebat yang dengan rela hati senantiasa mewakafkan tenaga, harta dan fikirannya untuk kemajuan organisasi kami. Mereka begitu setia menghadiri setiap acara, pertemuan ataupun rapat-rapat organisasi meski jarak tempat tinggal mereka begitu jauh dari kantor organisasi kami, tentu saja dengan ongkos dari saku sendiri. Ah,, aku benar-benar angkat jempol dan sangat mengapresiasi kiprah mereka. Semoga Allah selalu memberikan kesehatan, kemudahan dan kelapangan rizki pada kita semua.
Nur, Mus, Sar, Ning, Haji dan Ita. Mereka adalah perempuan-perempuan hebat, kader-kader organisasi terbaik yang bersama-sama telah menyediakan diri sebagai pelopor, pelangsung dan penyempurna organisasi induk kami. Mereka yang setia menyertaiku mengelola organisasi sejak awal hingga berakhirnya kepemimpinanku selama satu periode.
Cerita selanjutnya adalah tentang perempuan-perempuan hebat lain  yang kedekatannya denganku terjadi di ujung kepemimpinanku. Mereka adalah Ev, Kar, dan Win. Meskipun kehadirannya di organisasi agak telat tapi semangat juang mereka tak perlu diragukan. Aku merasa senang  dan amat sangat bahagia dengan bergabungnya mereka di organisasi ini. Apalagi secara akademik keilmuan mereka sangat mumpuni dan berkualitas. Ev dan Kar yang mempunyai profesi sama sebagai guru SMP, saat ini sedang menempuh pendidikan S2 aku nobatkan sebagai kader-kader unggulan organisasi kami. Mereka perempuan-perempuan cerdas yang Allah hadirkan untuk organisasi kami. Tak kalah penting Win juga adalah sosok ibu muda yang siap mengabdi untuk organisasi. Aku sangat respek dan menghormatinya.
Yang terakhir adalah seorang ibu muda belia bernama Nen Al. Dia juga merupakan kader utama organisasi. Pengalamannya dalam berorganisasi juga tak perlu disangsikan. Dia sudah malang melintang berkiprah di organisasi kemahasiswaan di kampus tempatnya menempuh pendidikan. Dulu aku mengenalnya pada saat acara di wilayah. Sejak pertemuan itu aku telah membidiknya untuk bersedia melanjutkan kelangsungan organisasi ini.
Dan kini setelah empat tahun berakhir, maka berakhir pula masa kepemimpinanku. Musyawarah  daerah yang diselenggarakan enam bulan yang lalu, telah berhasil memilih dan mengangkat pimpinan baru. Dan aku sangat bersyukur karena pimpinan baru itu adalah sahabat-sahabat dekatku yang merupakan kader-kader unggulan yang aku sebutkan tadi. Aku sangat bangga dan bahagia bisa mengantarkan mereka menjadi pimpinan organisasi. semoga di bawah kepemimpinan mereka organisasi kami menjadi semakin maju dan semakin nyata kiprahnya di masyarakat. Dan aku, meskipun kini tak lagi menjadi pimpinan, aku akan tetap berada diantara mereka dan selalu menjalin kebersamaan dan silaturahmi dengan mereka.
Terima kasih aku ucapkan atas kesetiaan dan kebersamaan kita.
Selamat berjuang sahabat-sahabatku, semoga Allah selalu menyertai dan meridoi gerak langkah kita, dan menjadikan kegiatan organisasi ini  sebagai lahan ibadah bagi kita..Amiin
Rawa, 30 April 2014

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerbung: Sengsara Membawa Nikmat (2)

Sengsara Membawa Nikmat (2) Oleh: Tika Ihwatika Puji syukur aku bisa menyelesaikan sekolah keguruanku sampai tamat. Tak kan kuceritakan suka dukanya menjalani kehidupan selama tiga tahun itu. Yang jelas banyak sekali hikmah yang kudapat selama bekerja di toko. Selain bisa sekolah, aku juga jadi punya keterampilan bisa menyetir mobil. Ya.. atas kebaikan majikan, aku diberi ijin untuk  belajar mengemudi secara mandiri menggunakan mobil miliknya. Beruntung sekali aku bisa mendapatkan bos sebaik dia. Oh ya.. setelah lulus sekolah, aku tak langsung pulang kampung. Aku tetap bekerja di toko. Namun setelah bisa menyetir mobil, aku dipercaya untuk mengantar jemput anaknya ke sekolah. Selain itu aku diminta untuk membimbing dan memberi les anaknya pada malam hari. Jadi aku tak lagi disibukkan dengan tugas berat di toko. Alhamdulillah aku  bersyukur sekali dengan kondisi ini. Aku semakin percaya bahwa dengan ilmu derajat kita akan meningkat. Bapak, ibu, Kak Doni, kak Ela dan kedua ka...

Cerbung: Sengsara Membawa Nikmat (3)

Sengsara Membawa Nikmat (3) Oleh : Tika Ihwatika Resmilah sudah kami pacaran. Setiap Sabtu sore aku selalu menunggunya pulang dari asrama dan mengantarkannya sampai di ujung gang menuju rumahnya. Hanya sebatas itulah pacaran kami, bertemu satu minggu sekali jika dia pulang dari asrama. Aku belum berani berkunjung ke rumahnya karena takut kalau orang tuanya tak setuju dengan hubunganku. Lagi pula dia belum pernah mengajakku main ke rumahnya. Hingga suatu hari aku memberanikan diri meminta ijin untuk main ke rumahnya di hari Minggu. Dia tak keberatan, bahkan dengan senang hati mempersilakanku untuk mengunjunginya. Aku tanyakan apakah orang tuanya takkan marah jika aku main ke rumahnya? Dia menjawab agar dicoba dulu, nanti lihat bagaimana sikapnya. Dia juga mengatakan kalau ayahnya sudah sakit-sakitan. Sementara ibu kandungnya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Sekarang dia punya ibu tiri yang berprofesi sebagai guru. Mendengar ceritanya itu, aku jadi semakin sayang padanya, dan ...

Cerbung: Sengsara Membawa Nikmat (1)

Sengsara Membawa Nikmat (1) Oleh: Tika Ihwatika Tak pernah kubayangkan akan menjadi seorang guru dengan status PNS, mengingat aku hanyalah seorang pemuda yang miskin. Aku juga tak menyangka akan memiliki jodoh seorang bidan yang juga berstatus PNS. Semua berjalan tanpa kurencanakan. Namun aku mensyukuri semuanya sebagai takdir baik yang Allah berikan untukku. Alhamdulillah*** Terlahir sebagai bungsu dari 4 bersaudara, aku harus puas bersekolah hingga SMP saja. Saat itu ayah dan ibu sudah renta dan tak sanggup lagi membiayai sekolahku. Aku diminta untuk tidak melanjutkan ke tingkat SMA. Hal ini membuat hatiku sedih dan kecewa. Ada perasaan iri pada kak Doni kakak sulungku yang bisa melanjutkan sekolahnya hingga ke tingkat SMA, bahkan saat itu kak Doni sudah bekerja sebagai guru PNS di kota Garut. Sementara aku dan kedua kakakku yang lain tak mendapatkan kesempatan yang sama. Namun kecewaku tak berlangsung lama. Setelah ijazah SMP kuterima, kak Doni mengirim surat yang isinya menyuru...