Cinta Sejatiku
Oleh : Tika
Ihwatika
Nama lengkapnya
Siti Nurhasanah. Tapi aku memanggilnya Nur. Kami teman bermain semenjak kecil.
Dia yang usianya 5 tahun lebih muda dariku, tak menjadi halangan untuk menjadi
sahabat kecilku. Dimana ada aku di situ ada dia, begitupun sebaliknya. Hubungan
kami sangat dekat hingga akhirnya dia kuanggap seperti adik sendiri.
Ada cerita lucu
saat kami masih kecil dulu. Waktu itu aku masih duduk di kelas 3 SMP dan dia di
kelas 6 SD. Mungkin karena kami sering main bareng, tanpa kusadari muncul
perasaan lain di hatiku. Ada rasa tertarik saat kupandangi wajahnya. Hingga
kuberanikan diri untuk mengutarakannya melalui surat. Ya… aku mengiriminya
surat cinta. Dalam surat itu kukatakan bahwa aku mencintai dan menyayanginya
dan berharap bisa menjadi kekasihnya. Kuberikan surat itu langsung padanya. Dia
nampak kaget dan ragu-ragu menerimanya.
“Ini buatku, Kak?”
tanyanya seraya membolak balik amplop surat seakan mencari-cari alamat si
pengirim dan penerimanya.
“Iya buatmu,”
jawabku singkat sambil tersenyum.
“Dari siapa?” Dia
bertanya lagi seraya memandang wajahku.
“Baca saja dulu,
nanti juga kamu tahu siapa pengirimnya,” kilahku memberi saran.
Perlahan dia
merobek amplop surat yang kuberikan, lalu membacanya. Jantungku berdegup keras
menyaksikannya. Ada rasa geer dan keyakinan yang besar jika dia pastu akan
menerima cintaku.
Tak berapa lama,
kulihat dia melipat surat itu dan memasukkannya kembali ke dalam amplop. Dia
memandangku seolah menelisik ingin mencari kebenaran isi surat.
“Kak, surat ini tuh
benar buatku?” Dia bertanya lagi penuh keraguan.
“Memangnya kalau
bukan buat kamu, buat siapa lagi?” jawabku balik bertanya. “Gimana jawabannya
Nur?”tanyaku tanpa basa basi.
“Aku harus berfikir
dulu, Kak. Mungkin besok baru bisa dijawab.” Katanya dengan wajah menunduk.
“Ya, gak apa-apa
Nur, kakak akan sabar menunggu,” jawabku sambil tersenyum.
Keesokan harinya
aku menerima surat balasan dari dia, dan isinya sungguh di luar dugaanku.
Dengan beberpa alasan dia menolak cintaku. Dia meminta sebaiknya kita menjadi
adik kakak saja, jangan jadi kekasih.
Mendengar
permintaanya yang seperti itu, akupun tak bisa berbuat apa-apa. Aku tak bisa
memaksanya untuk menerima cintaku. Aku hanya mampu mengiyakan dan menerima
keputusannya meski dengan hati yang kecewa.
Hari-hari
selanjutnya kulalui seperti biasa. Aku selalu melewati hari bersamanya. Tak
sedikitpun kutampakkan rasa kecewaku. Aku berusaha untuk mewujudkan
keinginannya supaya menjadi kakak yang baik untuknya. Hingga tibalah masa
dewasaku. Aku yang saat itu telah menyelesaikan pendidikan di sekolah keguruan
(SPG) mencoba keluar kota dan berupaya untuk hidup mandiri tanpa bantuan orang
tua. Ya.. saat itu aku pergi ke Jakarta. Kuarungi kerasnya kehidupan di kota
Jakarta dengan menjadi penjaja air bersih. Hampir setiap hari aku keliling
kampung menjajakan air bersih kepada para warga. Untuk beberapa alasan
kuabaikan ijazah SPGku. Aku lebih memilih berjualan air bersih di Jakarta dari
pada menjadi guru di kampung halaman. Sebulan sekali aku pulang kampung menemui
kedua orangtuaku dan Nur tentunya. Selalu kusempatkan diri untuk menemuinya
sekedar berbagi cerita.
Dalam perjalananku
menjadi penjual air bersih di Jakarta, aku berkenalan dengan seorang gadis yang
bernama Kurniasih. Dia salah seorang gadis yang tinggal di kampung sebelah. Aku
mengenalnya pada saat dia sedang belajar membuat kerajinan di rumah saudaraku.
Dia nampak begitu terampil membuat beberapa kerajinan anyaman dari bahan bambu.
Wajahnya yang lugu dan penampilannya yang sederhana serta kepiawaiannya dalam
membuat kerajinan membuatku jatuh hati. Secara diam-diam aku mencari informasi
tentang dia pada saudaraku. Singkat cerita setelah melalui beberapa proses
akhirnya akupun berpacaran dengan Nia, begitu panggilan akrabnya. Menurut saudaraku, ternyata Nia juga naksir
padaku. Akupun merasa senang mendengarnya karena ternyata aku tak bertepuk
sebelah tangan. Kuniatkan dalam hati jika dia akan kujadikan istri dan calon
ibu dari anak-anakku.
Rasa senang ini tak
ingin kunikmati sendiri. Aku membagikannya kepada adik hatiku Nur. Kuceritakan
padanya jika aku sekarang sudah punya pacar yang bernama Nia.
“ Asyiiik.. selamat
ya kak, semoga hubungan kakak langgeng,” begitu tanggapan Nur penuh
kegembiraan.
“ Aamiin.. makasih
ya adikku,” jawabku sambil menyentil hidungnya. Dia mengibaskan kepalanya
menghindari sentilanku.
“ Nanti kalau kakak
apel, aku ikut ya..” pintanya dengan manja.
“ Pastinya dong,
nanti kakak kenalin sama kak Nia,” jawabku menjanjikan.
Dia menundukkan
mukanya. Sekelebat aku melihat mata Nur berkaca-kaca. Tapi ketika aku memandang
wajahnya, dia segera memalingkan muka dan mengalihkan pembicaraan hingga
akhirnya berpamitan pulang. Aku menawarkan diri untuk mengantarnya sampai ujung
gang namun dia menolak. Ada rasa heran dalam hatiku karena tak seperti biasanya
dia bersikap begitu. Kubiarkan dia berlalu meskipun hatiku tak tega melihatnya.
Keesokan harinya,
aku hendak berangkat lagi ke Jakarta. Seperti biasanya sebelum berangkat aku
selalu menemui dulu Nur di rumahnya. Kudapati dia sedang bersiap berangkat
sekolah. Dengan seragam putih abunya dia nampak anggun. Kukatakan padanya jika
aku akan berangkat lagi merantau ke Jakarta. Dan dia mengiyakan serta
mendoakanku agar selamat sampai tujuan. Setelah berpamitan sama Nur, tak lupa
akupun berpamitan kepada ibunya Nur yang saat itu sedang berada di dapur. Tak
banyak basa basi, setelah berpamitan kepada ibunya Nur, aku bergegas menuju
pangkalan ojeg yang selanjutnya tiba di Jakarta dengan selamat.
Hari berganti
minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Tak terasa hubunganku
dengan Nia sudah berjalan satu tahun. Kami menjalani hubungan yang serius dan
berencana untuk segera menikah. Dengan adanya rencana menikah itu aku
benar-benar merasa termotivasi untuk lebih giat berusaha mencari nafkah.
Berbagai persiapan pun dilakukan mulai dari mencicil belanja barang dan
benda-benda dan berbagai hal lainnya yang dibutuhkan untuk sebuah pernikahan.
Aku dan keluargaku dibuat sibuk dengan rencana itu, tak terkecuali Nur. Dia
ikut serta membantu mempersiapkan segala sesuatunya. Dia begitu semangat dan
terlihat sumringah dengan rencana pernikahanku. Hingga tibalah waktu yang
ditunggu-tunggu itu, aku menikah dengan Nia teman sekelas pada masa SD dulu.
Selain kedua orang tua dan keluarga, Nur juga ikut hadir dan mengantarkanku
menjadi pendampingku menuju pelaminan.
Dalam perjalananku
selanjutnya, setelah kurang lebih lima tahun menikah usahaku di Jakarta
mengalami kebangkrutan. Aku kembali ke kampung halaman dan berkumpul dengan keluarga.
Aku teringat pada ijazah SPGku yang belum sempat kumanfaatkan. Aku melamar
menjadi guru di salah satu sekolah dasar
yang ada di kampung. Dari situ resmilah aku tercatat sebagai guru sukarelawan
dan mengajar sebagai guru olahraga. Selain mengajar di SD, aku kerja serabutan.
Sehabis sekolah aku memanfaatkan waktu dengan membuat berbagai anyaman yang
sudah kukuasai sejak dulu. Aku dan istriku Nia bahu membahu mencari nafkah
untuk mencukupi kebutuhan hidup kami. sebagai istri Nia begitu sabar mendampingiku
dalam suka dan duka. Dan Nur, gadis kecil yang sudah kuanggap adik itu, dia
sudah menikah dengan Jaya, lelaki
pilihannya yang juga sahabatku sendiri.
Meski aku dan Nur
sudah punya keluarga masing-masing, namun hubungan baik kami tetap terjalin seperti
layaknya adik dan kakak. Kami sering
saling berkunjung dan bercerita tentang berbagai hal. Nur bekerja sebagai guru
sukarelawan di sebuah Madrasah Ibtidaiyah di kampungku, sementara aku sudah
diangkat menjadi Guru Bantu. Selanjutnya kami menjalani hari-hari dengan
berbagai kesibukan masing-masing. Rumah tangga Nur nampak bahagia. Dia
dikaruniai dua orang putera yang ganteng-ganteng, sementara Aku dan Nia
dikaruniai seorang putri cantik yang masih kecil. Ya,, dalam hal anak aku tak
seberuntung Nur yang begitu menikah langsung dipercaya mendapatkan keturunan.
Sementara Nia istriku beberapa kali mengalami keguguran, hingga akhirnya dengan
perjuangan yang luar biasa lahirlah putri semata wayang kami yang kuberi nama
Syabina. Aku sangat bersyukur sekali karena memiliki Syabina merupakan anugerah
terbesar dalam hidupku.
Seiring berjalannya
waktu, karirku dalam mendidik putera puteri bangsa pun mengalami kemajuan. Pada
tahun 2007 aku kembali mendapatkan anugerah yaitu diangkat menjadi pegawai
negeri sipil (PNS). Tak dapat dilukiskan betapa bahagianya hatiku. Dalam waktu
yang berdekatan aku mendapatkan dua anugerah yaitu kelahiran puteriku dan
perubahan statusku menjadi PNS. Kembali aku membagikan rasa bahagia ini kepada
orang tua dan semua anggota keluargaku, tak terkecuali kepada Nur. Aku
berangkat ke rumah Nur untuk menyampaikan kabar gembira ini. Namun sayang, aku
tak mendapatinya berada di rumah. Kata ibunya, Nur sedang pergi bersama
sahabatnya. Meski agak sedikit kecewa, namun aku bersabar menunggu kepulangannya.
Aku ingin agar Nur mengetahui kabar gembira ini langsung dari mulutku.
Sambil menunggu
kepulangan Nur, aku ngobrol dengan ibunya. Saat itulah dari obrolan ibunya aku
tahu bahwa sebenarnya kehidupan rumah tangga Nur tak sebahagia yang aku kira.
Suami Nur kerap kali melakukan kekerasan hingga membuat mereka bertengkar.
Mendengar kabar seperti itu, sontak aku merasa kaget dan prihatin. Aku
benar-benar merasa marah pada Jaya suami Nur yang tak lain adalah sahabatku
sendiri. Tega-teganya dia berlaku seperti itu pada adikku Nur. Lebih
mengejutkan lagi seteleh ibunya Nur bercerita tentang bagaimana sebenarnya
perasaan Nur padaku.
“ Menurut ibu yang
tega itu kamu, nak,” ujarnya membuatku terperanjat. “ Kamu telah mengabaikan
perasaan Nur yang sebenarnya mencintaimu,” sambung ibunya lagi sambil
menatapku sayu.
“ Apa bu? Nur
mencintaiku?” Bukankan dulu Nur yang menolak cintaku dan lebih memilih menjadi
adikku?” kataku dengan nada agak tinggi.
“ Betul, nak.. Nur
mencintaimu, tapi saat itu kamu sudah menjalin hubungan serius dengan Nia. Dulu
pada saat kamu menikah, Nur pulang ke rumah sambil menangis mengungkapkan
perasaan bahwa sebenarnya dia mencintaimu,” begitu ibunya Nur menjelaskan lebih
detil.
Tak sadar aku
bersimpuh dan menggenggam tangan ibunya Nur seolah ingin meyakinkan bahwa apa
yang diceritakannya itu tak benar. Sungguh aku merasa terkejut dibuatnya.
Berbagai perasaan berkecamuk dalam dada ini. Andai saat itu Nur ada di
hadapanku, akan kupeluk erat tubuhnya sebagai ungkapan rasa bersalah atas apa
yang telah aku lakukan. Yach..sejak penolakannya dulu aku memang tak pernah
mengungkapkan lagi perasaan cinta padanya. Aku memegang teguh komitmen untuk
tetap menjadi kakak baginya. Meski sebenarnya aku juga masih mencintainya. Aku
menghela nafas panjang melepaskan gejolak rasa yang ada. Lama menunggu Nur yang
tak kunjung datang, akhirnya akupun berpamitan pulang.
Esok harinya, sepulang
sekolah aku kembali mendatangi rumah Nur. Tiba di rumahnya nampak dia sedang
duduk di teras depan. Segera kuhampiri dan kamipun larut dalam obrolan. Saat
kutanyakan tentang kebenaran cerita ibunya tentang perasaan cintanya padaku, dengan
berlinang air mata, Nur menganggukkan kepala pertanda jika semua yang
diceritakan ibunya itu benar adanya. aku terpana dengan anggukannya. Lidahku
terasa kelu tak tahu harus berkata apa. Aku hanya bisa menatapnya dengan sendu.
Aku yang kini berstatus sebagai suami Nia tak mungkin lagi melanjutkan rasa
cinta yang ada ini untuk diwujudkan secara nyata. Aku hanya bisa menyesali dan
menyimpannya dalam hati sebagai cinta sejatiku. Biarlah hanya aku, Nur dan
ibunya saja yang tahu tentang perasaan ini. Biarlah cinta sejati kami tumbuh
dan mekar di hati masing-masing. Kelak jika Allah berkehendak bukan tidak
mungkin cinta sejati ini kan menyatu menjadi nyata. Insya Allah. ******
Leuwisari,
September 2018
Komentar
Posting Komentar