Langsung ke konten utama

Semua Karena Cinta (Cerpen)


Semua Karena Cinta
Oleh: Tika Ihwatika

Cr : Pinterest


Menjalani peran sebagai ibu dari dua orang anak tanpa kehadiran ayahnya di rumah, merupakan takdir yang harus kuterima.  Bagaimana tidak, aku harus rela dicerai oleh suamiku pada saat kedua buah hati kami masih sangat kecil. Sebagai seorang isteri, aku tak mampu menolak keinginan suami dan kedua orang tuanya yang bersikeras untuk mengakhiri pernikahan kami yang baru menginjak tahun keenam. Aku yang pada saat itu sedang labil benar-benar terusir dari rumah suami, pergi dengan membawa dua orang balita tanpa bisa berbuat apa-apa. Beruntung aku masih mempunyai kedua orang tua yang siap menerima dan menampung aku beserta kedua anakku untuk tinggal di rumahnya. Tak dapat dilukiskan betapa sakit dan perihnya hatiku saat itu. Aku hanya bisa berdoa memohon kekuatan dan kesabaran atas apa yang terjadi padaku.

Masih kuingat bagaimana awal perjumpaan aku dengan suamiku Dudi yang dipertemukan melalui perjodohan oleh seorang saudara. Dudi adalah seorang anak laki-laki semata wayang yang sangat disayang dan dimanja oleh kedua orang tuanya. Maka tak heran jika dia tumbuh menjadi sosok laki-laki yang manja. Sementara aku seorang sulung dari tiga bersaudara yang dididik dalam aturan sewajarnya. Meski tidak berlimpah harta, namun kedua orang tuaku mendidik anak-anaknya dengan penuh kasih sayang dan pendidikan yang cukup. Sebagai seorang sulung, aku memilih untuk kuliah di fakultas keguruan dengan harapan agar bisa menjadi guru dan mendidik anak-anak bangsa.

Tanpa proses perkenalan yang panjang, aku menerima kehadiran Dudi dan bersedia untuk segera menikah dengannya. Tentu saja dengan restu kedua orang tua kami. Akad nikah dan resepsi pernikahanpun digelar dengan sangat meriah. Aku yang pada saat menikah sudah bertatus guru PNS merasa menjadi seorang wanita yang benar-benar beruntung telah dipersunting oleh lelaki tampan dan rupawan. Setelah menikah aku diboyong ke rumah orang tua Dudi. Layaknya sepasang pengantin, kami menjalani kehidupan rumah tangga dengan penuh suka cita. Apalagi saat sebulan sesudah menikah aku dinyatakan hamil, ooowwhh bukan main senangnya hati ini.

 Waktu berlalu hingga tibalah saatnya aku melahirkan bayi perempuan. Lengkap sudah  kebahagiaanku, sempurna sudah kodratku sebagai perempuan. Kehadiran putri pertamaku bukan saja memberi kebahagiaan padaku tapi pada kedua mertua dan kedua orang tuaku. Mereka tampak amat sangat bahagia mendapatkan cucu perempuan dariku. Hampir setiap hari merekalah yang mengurus dan mengasuh buah hatiku. Apalagi karena setiap hari aku harus menunaikan kewajibanku sebagai guru SD, jadi tak ada masalah dalam hal pengasuhan anak. Selama di sekolah aku merasa tenang karena anakku berada dalam asuhan dan lindungan kakek dan neneknya. Aku benar-benar merasa sangat bersyukur atas segala anugerah yang diterima.

Namun siapa sangka, pada perjalanan rumah tangga kami selanjutnya, mulai muncul kerikil-kerikil masalah. Setahun setelah melahirkan putri pertama, aku kembali dinyatakan hamil. Saat hamil anak kedua itulah aku dan suami mulai sering cekcok hanya karena hal-hal yang sepele. Namun aku berusaha sedapat mungkin untuk menyembunyikan semua masalah rumah tangga dari orang lain, termasuk kepada kedua orang tua dan mertuaku. Hal ini berlawanan dengan sifat suami yang manja, di mana setiap ada masalah rumah tangga, dia selalu mengadu kepada kedua orang tuanya. Tentu saja kedua orang tuanya lebih mendengarkan keluhan dan pengaduan anaknya dari pada pengakuan aku. Cinta dan kasih sayang untuk anak semata wayangnya terlalu besar hingga di matanya tak nampak satupun kesalahan anaknya. Yang ada hanyalah kesalahan aku, menantunya.

Dari tahun ke tahun masalah demi masalah datang bertubi-tubi, namun aku berusaha untuk tetap bersabar dan bersikeras untuk tetap bertahan meski sudah merasa tak nyaman. Kehadiran anak kedua yang berjenis laki-laki tak mampu membuat sikap manja suamiku berubah. Setiap ada masalah denganku, selalu saja mengadu kepada orangtuanya. Hal ini membuatku semakin tak nyaman dan merasa selalu tersudut. Hingga tibalah pada suatu malam di tahun 2016, percekcokan kami mencapai puncaknya hingga mengakibatkan kedua mertuaku turut campur dan menyuruh Dudi untuk menceraikan aku. Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Mungkin saking takut dikatakan anak yang durhaka kepada kedua orangtua, suamiku menyetujuinya. Aku pun menerima keinginannya untuk bercerai meski dengan perasaan yang hancur lebur. Ada satu hal yang membuatku kuat adalah ketika pengadilan memutuskan hak asuh anak-anak jatuh pada aku ibunya. Aku tak perduli dengan harta gono gini hasil selama berumah tangga. Yang terpenting aku bisa membawa serta harta terbesarku yaitu kedua buah hatiku, raja dan ratuku. Akupun pulang ke rumah orang tuaku dengan hati pilu.

Selanjutnya kulalui hari-hariku bersama kedua buah hati penyemangat jiwa. Untuk sementara aku tinggal di rumah kedua orang tuaku. Dengan segala kemampuan aku berusaha untuk menyenangkan hati anak-anakku. Sejak perceraian terjadi, sesekali mantan suamiku menengok anak-anak, tapi tak pernah sekalipun kuterima uang atau bantuan apapun darinya sebagai biaya hidup anak-anak. Dan itu tak jadi soal buatku, toh yang akan menanggung dosanya dia sendiri karena sudah berlaku tidak bertanggung jawab terhadap hidup kedua anaknya. Beruntung sekali aku punya penghasilan sendiri sebagai guru PNS, jadi aku masih mampu untuk membiayai kehidupan kami bertiga. Akupun mulai bisa mengatur jadwal pengasuhan anak-anak dengan memasukkan mereka ke sebuah TK yang sama. Kebetulan usia mereka berdua hanya terpaut satu tahun saja, jadi keduanya bisa belajar di sekolah yang sama sehingga membuat hatiku tenang saat menjalankan kewajiban mengajar di tempat tugasku.

Seiring berjalannya waktu, sikap mantan suami dan kedua orangtuanya mulai melunak. Jika selama ini mereka tak pernah memberi biaya hidup anak-anak, sedikit demi sedikit mulai berubah. Mantan suamiku sesekali muncul dan mengajak anak-anak bermain ke rumahnya. Begitupun dengan mertuaku, sikap mereka tak lagi sedingin dahulu. Mantan suamiku meminta kesepakatan untuk bisa membawa anak-anak bermain ke rumahnya  setiap akhir pekan dan liburan sekolah. Aku hanya bisa mengiyakan serta menyikapinya dengan rasa syukur. Bagiku kebahagiaan anak-anak adalah kebahagiaanku juga. Mau tak mau aku harus mengikuti aturan itu kecuali jika kedua buah hatiku tak mau berlama-lama tinggal di rumah ayahnya, maka akan segera kujemput mereka. Kesepakatan yang menyakitkan dan aturan yang sangat berat untuk dilakukan, namun itulah kenyataan yang harus kujalani. Aku harus membuang egoku demi kebaikan bersama, terlebih lagi demi kedua belahan jiwaku yang sampai saat ini belum mengerti apa yang terjadi pada kedua orangtuanya.

Seringkali hatiku merasa sedih ketika aku harus berbohong jika kedua anakku bertanya mengapa ayahnya tak tinggal bersama mereka. Mengapa ayah mereka hanya sesekali saja muncul dan mengajak bermain di rumahnya. Aku katakan jika ayah mereka sengaja tinggal di rumah barunya supaya lebih dekat ke tempat tugasnya. Yang paling menyakitkan lagi ketika kedua anakku bertanya tentang seseorang yang dikenalkan ayahnya sebagai seorang ibu baru mereka. Aku benar-benar bingung harus menjelaskan apa pada mereka, karena orang yang dimaksud itu ternyata istri baru mantan suamiku yang berpropesi sebagai bidan. Kerap kali hatiku merasa sakit dan sedih setiap kali menjelaskan kebohongan demi kebohongan ini pada mereka. Namun semua itu terpaksa kulakukan karena aku tak mau kebahagiaan mereka tercederai.

Waktu terus berlalu, sikap mantan suami dan orangtuanya semakin hari semakin menunjukkan perubahan yang drastis berubah 180 derajat. Mereka semakin mengakrabiku. Jika anak-anak sedang bermain di rumahnya, aku sering ditelpon oleh mantan mertua untuk ikut gabung bersama mereka. Hal ini tentu membuat hatiku heran dan bertanya-tanya. Selidik punya selidik ternyata pernikahan mantan suamiku dengan seorang bidan itu hanya berjalan beberapa bulan saja. Kabarnya kedua mertuaku merasa kecewa berat dengan sikap menantu barunya yang bla bla bla. Ah.. sudahlan aku tak mau terlalu jauh mengomentari kehidupan rumah tangga mantan suamiku. Yang jelas aku merasa bersyukur silaturahmiku dengan mereka kembali terjalin. Lebih bersyukur lagi ketika aku diperbolehkan kembali menempati rumah kami yang dulu ditinggalkan. Kubuang rasa sakit hati atas perlakuan mereka yang sudah mengusirku dulu. Yang terpenting aku bisa hidup dengan kedua anakku dalam kondisi yang nyaman.

Tibalah pada suatu hari mantan mertuaku datang ke rumah dan berkata, “Teh, maafkan mamah ya, selama ini mamah telah banyak berdosa sama kalian, mamah telah menelantarkan kalian…” katanya sambil memelukku erat sekali.

Aku membalas pelukannya. Tak terasa kedua mataku basah bersimbah air mata. Aku hanya mampu terisak tanpa menjawab permohonan maaf mantan mertuaku.

“Mamah harap, teteh mau menerima Dudi kembali,” lanjutnya membuat aku terkesiap.

“Tapi Mah, Aa kan masih terikat pernikahan dengan Bu Sari,” jawabku.

“Gak apa-apa, mereka sedang dalam proses persidangan bercerai. Mamah berharap kamu bersedia untuk rujuk kembali dengan Dudi, demi anak-anak dan demi kebahagiaan kalian,”katanya sambil menatap wajahku penuh harap.

Aku belum memberi jawaban atas permintaan mantan mertuaku sampai akhirnya beliau berpamitan pulang setelah agak lama bercengkrama dengan anak-anak. Terlalu sakit untuk dilupakan bagaimana menusuknya perkataan beliau dulu saat menyuruh Dudi menceraikan aku.

Sepeninggal mantan mertuaku aku hanya duduk merenung. Kubiarkan anak-anak main di teras luar dengan teman-temannya. Aku masih tak percaya dengan apa yang beliau sampaikan. Kali ini aku harus mempertimbangkan semuanya secara matang. Jangan sampai memutuskan sesuatu dengan ceroboh. Begitu pikirku.

“Maah..Maaah.. ini ada papah..!” terdengar si kecil berteriak memanggilku.

Tanpa sempat menjawab teriakan si kecil, tiba-tiba Dudi, mantan suamiku telah berada di ruang tamu bersama kedua anakku. Kulihat binar bahagia di wajah mereka. Bercanda sambil bercerita tentang sekolahnya dalam pangkuan ayahnya.

Melihat pemandangan seperti itu, seketika hatikupun luluh. Ada niat yang belum terucap untuk mengiyakan permintaan mantan mertuaku untuk kembali rujuk membangun puing-puing cinta yang sempat porak poranda dengan Dudi. Aku kembali harus membuang rasa sakit, kecewa dan derita demi kedua buah hati. Karena pada dasarnya sebesar apapun rasa sakit akan terkalahkan dengan rasa cinta. Rasa cinta sebagai orang tua, rasa cinta sebagai anak, dan rasa cinta sebagai pasangan hidup.

Ya pada akhirnya apapun yang kuputuskan, itu semua terjadi karena cinta..**

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerbung: Sengsara Membawa Nikmat (2)

Sengsara Membawa Nikmat (2) Oleh: Tika Ihwatika Puji syukur aku bisa menyelesaikan sekolah keguruanku sampai tamat. Tak kan kuceritakan suka dukanya menjalani kehidupan selama tiga tahun itu. Yang jelas banyak sekali hikmah yang kudapat selama bekerja di toko. Selain bisa sekolah, aku juga jadi punya keterampilan bisa menyetir mobil. Ya.. atas kebaikan majikan, aku diberi ijin untuk  belajar mengemudi secara mandiri menggunakan mobil miliknya. Beruntung sekali aku bisa mendapatkan bos sebaik dia. Oh ya.. setelah lulus sekolah, aku tak langsung pulang kampung. Aku tetap bekerja di toko. Namun setelah bisa menyetir mobil, aku dipercaya untuk mengantar jemput anaknya ke sekolah. Selain itu aku diminta untuk membimbing dan memberi les anaknya pada malam hari. Jadi aku tak lagi disibukkan dengan tugas berat di toko. Alhamdulillah aku  bersyukur sekali dengan kondisi ini. Aku semakin percaya bahwa dengan ilmu derajat kita akan meningkat. Bapak, ibu, Kak Doni, kak Ela dan kedua ka...

Cerbung: Sengsara Membawa Nikmat (3)

Sengsara Membawa Nikmat (3) Oleh : Tika Ihwatika Resmilah sudah kami pacaran. Setiap Sabtu sore aku selalu menunggunya pulang dari asrama dan mengantarkannya sampai di ujung gang menuju rumahnya. Hanya sebatas itulah pacaran kami, bertemu satu minggu sekali jika dia pulang dari asrama. Aku belum berani berkunjung ke rumahnya karena takut kalau orang tuanya tak setuju dengan hubunganku. Lagi pula dia belum pernah mengajakku main ke rumahnya. Hingga suatu hari aku memberanikan diri meminta ijin untuk main ke rumahnya di hari Minggu. Dia tak keberatan, bahkan dengan senang hati mempersilakanku untuk mengunjunginya. Aku tanyakan apakah orang tuanya takkan marah jika aku main ke rumahnya? Dia menjawab agar dicoba dulu, nanti lihat bagaimana sikapnya. Dia juga mengatakan kalau ayahnya sudah sakit-sakitan. Sementara ibu kandungnya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Sekarang dia punya ibu tiri yang berprofesi sebagai guru. Mendengar ceritanya itu, aku jadi semakin sayang padanya, dan ...

Cerbung: Sengsara Membawa Nikmat (1)

Sengsara Membawa Nikmat (1) Oleh: Tika Ihwatika Tak pernah kubayangkan akan menjadi seorang guru dengan status PNS, mengingat aku hanyalah seorang pemuda yang miskin. Aku juga tak menyangka akan memiliki jodoh seorang bidan yang juga berstatus PNS. Semua berjalan tanpa kurencanakan. Namun aku mensyukuri semuanya sebagai takdir baik yang Allah berikan untukku. Alhamdulillah*** Terlahir sebagai bungsu dari 4 bersaudara, aku harus puas bersekolah hingga SMP saja. Saat itu ayah dan ibu sudah renta dan tak sanggup lagi membiayai sekolahku. Aku diminta untuk tidak melanjutkan ke tingkat SMA. Hal ini membuat hatiku sedih dan kecewa. Ada perasaan iri pada kak Doni kakak sulungku yang bisa melanjutkan sekolahnya hingga ke tingkat SMA, bahkan saat itu kak Doni sudah bekerja sebagai guru PNS di kota Garut. Sementara aku dan kedua kakakku yang lain tak mendapatkan kesempatan yang sama. Namun kecewaku tak berlangsung lama. Setelah ijazah SMP kuterima, kak Doni mengirim surat yang isinya menyuru...